Sensus Penduduk sang Ajatasatru

SEPENINGGAL Semar, Ponokawan Gareng, Petruk dan Bagong luntang-lantung nggak punya gawean. Tadinya salah seorang dari mereka berharap akan dipanggil jadi menteri keuangan yang baru. Tapi, menurut Ponokawan Limbuk dan Cangik, mereka blas ndak punya potongan jadi menteri. Arep ndaftar ikut pemilukada jadi calon bupati atau wali kota, sudah telat. Akhirnya, Gareng, Petruk, dan Bagong nyari kerjaan alternatif. Mereka mendaftar jadi petugas cacah jiwa alias sensus penduduk.

/lalala

Ternyata jadi petugas sensus juga banyak makan ati-nya. Ampela dirogoh-rogoh. Persis seorang menteri keuangan. Serbasalah. Oleh orang luar, orang asing, dia dipuji-puji karena investor-investor asing podo seneng. Berbagai majalah asing kasih penghargaan. Tapi oleh bangsa sendiri, terutama wong cilik, dia disinisi. Kalau memang ekonomi tambah baik menurut orang asing itu, kenapa nyatanya rakyat hidup makin ndak enak.

Persis. Petugas cacah jiwa juga ngono. Oleh negara mereka dipuji. Soale data tentang jumlah dan keadaan warga negara sangat dibutuhkan untuk menentukan kebijakan-kebijakan publik. Termasuk untuk daftar pemilih tetap pada pemilu mendatang. Tapi masyarakat menerima dan menanggapi petugas sensus dengan cara yang lain lagi.
Orang-orang kaya biasanya tak berkenan keluar pintu rumah. Gareng, Petruk, dan Bagong cuma diterima di pintu pagar. Itu pun pagarnya cuma dibuka sedikit. Hanya cukup untuk pembantu rumah tangga anguk-anguk menyembulkan kepala. Dia pula yang menjawab pertanyaan petugas sensus tentang kapan dan di mana juragannya dahulu dilahirkan.
Orang kaya yang masih baik biasanya tak enggan menerima Gareng, Petruk, dan Bagong. Mereka bersedia keluar pintu rumah meski cuma menerima ponokawan di teras. Tapi mereka khilaf mengikat anjing-anjing mahalnya di halaman. Akibatnya paha Bagong digigit salah satu anjing. Gareng digigit betisnya oleh anjing yang lain. Yang paling malang Petruk. Ujung hidungnya yang panjang digigit oleh anjing lainnya lagi.
Nah, mencacah jiwa kalangan yang gak kaya, yang cukupan, juga bukan tanpa penderitaan seperti lagu dangdut. Mereka ndak mau buka pintu karena menganggap Gareng, Petruk, dan Bagong sebagai petugas sales atau promosi barang-barang dapur. ”Maaf, saya sudah bayar pajak, Mas!!!” teriak salah seorang warga dari dalam rumah. Dia sangka tiga sosok di depan pagar rumahnya, kalau nggak makhluk jadi-jadian, ya paling kader Partai Gayus.
Apa lebih enak menyensus orang miskin, ya? Ah, sama saja.
Ponokawan dari Klampis Ireng itu suatu tengah malam pernah terbirit-birit dikejar pemulung. Gelandangan ini sambil mengacung-ngacungkan gancu mengejar-ngejar mereka. Mungkin salah Bagong. Lha bambungan itu lagi enak-enaknya ngorok di emper toko berlian, digugah Bagong.
Maksud Bagong baik. Tengah malam, lingsir wengi, bungsu Ponokawan itu cuma mau tanya, si bapak asalnya dari mana, namanya siapa, dan, kalau tahu, kira-kira umurnya piro. Eh, si bapak yang lagi angler-angler-nya tidur pulas dan tampak happy itu rupanya merasa terganggu. Ia langsung nyamber gancu dan memburu ponokawan. Gareng sampek manjat naik ke Tugu Pahlawan.
Sejak insiden itu Gareng dan Petruk agak patah arang sebagai petugas sensus. Maka, di suatu rumah besar, di kawasan elite, begitu mbok-mbok pembantu rumah tangga membuka pintu pagar, Gareng dan Petruk langsung balik kanan. Bagong yang masih bengong melihat kakak-kakaknya pergi langsung digeret ke dalam oleh mbok-mbok itu.
”Ayo masuk, Mas. Bapak itu sueeneng kalau ada tamu,” kata si mbok. ”Abis pensiun jadi menteri, ndak pernah ada tamu, Mas. Padahal bapak itu seneng ndongeng. Biasane soal wayang. Beliau penggemar berat wayang…”
Bagong yang masih plonga-plongo tidak saja digeret sampai ruang tamu, bahkan sampai ruang tengah. Ada sedap malam dan melati nduk kono. Terdengar lagu Bengawan Solo dari suwargi Gesang. Tapi ruangan bau cerutu. Bapak-bapak sepuh yang sedang duduk sambil menerawang di kursi malas itu memang sedang klepas-klepus berkemelut asap.
***
”Menjadi pemimpin itu mestinya seperti Prabu Yudistira dari Pandawa,” si bapak mengawali suatu dongeng tentang wayang di depan petugas sensus.
Seperti kebiasaannya sejak lama, bapak ini ngasih selang-seling pantun model parikan tembang jula-juli dalam kesenian ludruk. Kadang parikannya itu tanpa juntrungan dan nggak ada hubungannya dengan lakon. Dengar saja!
Bosen Century bosen di emper//Orang di Malang bukanlah orang
Bos polisi lapor DPR//Disuruh ngulang bikin laporan…
Alkisah….
Ada burung besar seperti garuda. Unggas ini pemakan daging khususon burung emprit. Ketika Prabu Yudistira sedang di tengah padang pasir tiba-tiba hinggaplah di depannya burung emprit sambil terengah-engah. Dengan napas melar mingkus ia lapor sedang dikejar-kejar burung besar untuk dimangsa.
Padahal, kalau si emprit mati, anak-anaknya yang masih bayi dan menunggu di sarang akan mati pula. Ia meninggalkan sarang untuk mencari makan buat anak-anaknya. Kalau sampai dia tewas…aduh. Makanya dia minta perlindungan sang raja. Prabu Yudistira sebagai raja yang terkenal ambeg paramarta, yang selalu melindungi kaum cilik pencari keadilan, langsung menyatakan kesanggupannya untuk ngayomi…
Suramadu boyong ke Rungkut// Orang Jombang ada yang kaya
Mari berpadu jangan cemberut// Orang bimbang sungguh bahaya…
Tiba-tiba, dari langit di padang pasir itu, menukiklah burung besar mirip garuda. Prabu Yudistira alias Puntadewa langsung menghadangnya ketika burung perkasa yang serbahitam ini hendak mematuk emprit kelabu. Sang Prabu meminta burung besar itu mencari emprit yang lain saja. Burung besar kepalanya gedek-gedek tanda ndak mau.
Lihatlah sudah tak ada emprit lain di muka bumi ini. Manusia telah membuat burung-burung itu kian punah. Hutan-hutan saja sudah mulai punah. Padang pasir yang dipijak Prabu Yudistira sendiri kan dulunya adalah hutan yang hijau royo-royo.
Di muka bumi masih ada satu lagi burung gelatik dan satu lagi burung jalak. Prabu Yudistira alias Samiaji meminta burung yang garang itu memangsa mereka. Si garang kembali geleng-geleng. Bagaimana mau ngemplok jalak, wong takdirnya memang hanya sebagai pemangsa emprit, bukan daging sembarang daging.
Nduk Ndupak, Dik, rumah sang pacar//Menakjinggo minggat ke Muncar
Mari yang kompak, Dik, jangan berpencar//Barang-barang Cino semakin gencar…
Hah? Opo hubungane? Bagong membatin.
”Ssssttt….!!!” Mbok-mbok pembantu rumah tangga sambil mengantar minum kasih kode ke Bagong. Bisiknya, ”Biarkan saja…Yang penting Sampeyan duduk anteng…”
Bung Tomo arek Suroboyo/Rujak cingur dioplos rawon
S’lamat jalan buat Mbak Ani/Jangan nangis di Amerika…
”Lho, Pak, ndak nyambung bunyi parikannya…” Akhirnya Bagong nggak tahan juga untuk nyeletuk. Suaranya keras banget, ”Mosok Suroboyo jadi Mbak Ani…Rawon jadi Amerika…Huruf ‘O’ kok jadi ‘I’…’Won’ kok jadi ‘Ka”…”
”Hah? Saya nggak bisa dengar. Kamu ngomong apa? Saya tadi bilang, Bung Tomo arek Suroboyo/Rujak manis dioplos rawon.. S’lamat jalan ke Sri Mulyono/Jangan nangis di Washington.”
Tahu bapak ini budek, sejak itu Bagong tak pernah komentar lagi.
***
Bowo Leksono. Bowo artinya ucapan. Leksono perbuatan. Satunya kata dan perbuatan. Itulah sifat Prabu Yudistira yang terkenal bowo leksono. Karena sudah berjanji, ia tetap melindungi emprit apa pun alasan calon pemangsa emprit itu. Akhirnya si burung besar nanting. Bagaimana nek emprit itu diganti dengan daging Prabu Yudistira yang timbangannya setimpal dengan berat emprit.
Yudistira langsung memotong jari kelingkingnya sendiri. Ternyata emprit masih lebih berat. Ditambah potongan seluruh jari tangannya, emprit masih lebih berat. Emprit juga masih lebih berat ketika Yudistira menambahkan potongan kakinya, lalu betisnya sampai pahanya juga. Akhirnya, tatkala Yudistira akan memenggal kepalanya sendiri, guntur menyambar di antariksa, kedua burung sak kal menjelma wujud aslinya. Burung besar menjadi Batara Darma. Burung kecil menjadi Batara…Batara siapa gitu (Sorry, Rek. Aku betul-betul lupa. Asli. Kalau ada pecinta Jawa Pos sing eling nama dewa itu tolong kasih tahu ya. Matur nuwun. Semoga Gusti Allah ngijabahi.).
”Jangan kamu potong lehermu,” sabda Sang Darma sambil mengheningkan cipta. Seketika Prabu Yudistira yang sudah tinggal sisa separo badan kini kembali utuh. ”Samiaji, Puntadewa, titah ulun. Di jagad ini tak ada raja yang melindungi rakyatnya seperti titah ulun…Karena itu, mulai detik ini, titah ulun berhak menggunakan nama Ajatasatru. Negerimu, Amarta, mulai fajar 2014 besok juga berhak ganti semboyan Bersama Ajatasatru Kita Bisa…”
”Sensusnya sudah, Gong?” tanya Gareng dan Petruk yang menunggu jauh di luar pagar sambil minum es degan.
”Wis, Truk, Reng…Wis tak catet. Di situ ternyata bermukim lima orang. Mbok-mbok. Bapak-bapak. Batara Darma. Dan Batara siapa gitu. Ndak penting.”
”Lho, satunya lagi?”
”Prabu Ajatasatru…Orangnya aneh.”
http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s