Bhagawad Gita (XVIII) Kata Terakhir (TAMAT)

Berkatalah Arjuna:
1. Aku berhasrat, oh Kreshna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan tentang tyaga.
Arjuna sebenarnya bertanya dan ingin mengetahui apakah perbedaan antara sanyasa dan tyaga. Sanyasa adalah meninggalkan setiap tindakan, perbuatan dan aksi (kamya-karma), yaitu tindakan dan perbuatan yang diikuti oleh keinginan-keinginan tertentu. Tetapi dalam hidup ini ada saja perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu yang tidak bermotif egois seperti makan, tidur, mandi, jalan dan lain sebagainya yang tak dapat ditinggalkan atau diserahkan kepada Yang Maha Esa dalam arti harfiah, baik oleh seorang yang teramat suci sekalipun. Sedangkan kalau seseorang sama sekali tak bekerja atau berbuat sesuatu, maka orang semacam ini pun tentunya tak dapat disebut seorang sanyasin.

/peace /wueeks /bata 


Sedangkan tyaga berarti penyerahan total hasil dari setiap tindakan, perbuatan dan aksi kita ini. Setiap buah atau hasil dari berbagai perbuatan kita dipasrahkan atau dikembalikan kepadaNya lagi. Semua pekerjaan orang semacam ini (sanyasin) adalah kewajibannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengharapkan sesuatu. Pekerjaan dan perbuatannya penuh dengan dedikasi semata; dedikasi inilah sebenarnya motor penggerak dari individu-individu semacam ini, dedikasi yang tanpa pamrih dan demi Ia semata.
Seorang tyagi (penganut tyaga) tidak akan menjauhi ketiga pekerjaan utamanya, yaitu: yagna, dana, dan tapa. Tindakan-tindakan ini baginya adalah kewajiban, disiplin bagi diri pribadinya dan untuk tujuan sosial bagi sesamanya, berdasarkan kewajiban dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa. Perbuatan dan pekerjaan ini bukan merupakan ikatan-ikatan duniawi tetapi sebenarnya adalah jalan ke arah pembebasan atau penerangan baginya. Sanyasa atau tyaga tidak berarti menjauhi pekerjaan atau hal-hal yang bersifat duniawi dan segala efek atau aktivitasnya, tetapi berarti tetap bekerja tetapi tanpa suatu motivasi, imbalan atau pamrih yang penuh dengan ego, keserakahan dan harapan. Semuanya seharusnya dilakukan dan dipersembahkan kembali kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Para resi sadar bahwa sanyasa itu adalah penyerahan dari bentuk-bentuk pekerjaan yang diikuti oleh nafsu dan keinginan-keinginan tertentu; sedangkan tyaga oleh mereka-mereka yang bijaksana diartikan sebagai penyerahan total seluruh hasil atau buah sesuatu perbuatan yang dilakukan seseorang.
3. “Aksi harus dilepaskan karena ibarat iblis,” kata sementara pemikir. “Aksi-aksi seperti dana dan disiplin spiritual tidak boleh dilepaskan,” kata yang lainnya.
Banyak pemikir atau orang-orang pintar, para penganut ajaran Kapila (yang disebut ajaran Sankhya), mengutuk semua bentuk aksi, tindakan dan perbuatan karena bagaimanapun juga kata mereka tak ada pekerjaan, aksi atau sesuatu perbuatan yang tanpa maksud dan motif, sekecil apapun tindakan tersebut. Jadi menurut mereka setiap pekerjaan ada motivasinya, dan itu berarti menyandang dosha, dan dosha (dosa) inilah penyebab keterikatan kita pada dunia ini. Jadi semua bentuk aksi atau tindakan harus dilepaskan. Tetapi para pemikir golongan lainnya, yang disebut Mimansaka, berpendapat tindakan atau perbuatan pengorbanan (yagna), tapa dan dana harus dilaksanakan karena tindakan-tindakan ini menyucikan diri dan membantu seseorang mendaki tahap-tahap evolusi spiritualnya.
Apa yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita sebenarnya adalah melepaskan semua keterikatan-keterikatan akan hasil atau buah dari semua yang kita lakukan dan perbuat. Dengan kata lain terjadilah kehendakNya adalah arti dari ajaran Bhagavat Gita. Semua pekerjaan atau kewajiban sehari-hari kita harus dilakukan demi kebenaran dan kebaikan (dharma) dan dedikasi kita kepadaNya. Seseorang benar-benar bertindak seandainya ia bertindak atau bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari hasil perbuatannya.
4. Dengarkanlah sekarang, oh Arjuna, kesimpulanKu mengenai penyerahan total akan buah atau hasil kerja seseorang. Penyerahan total dari hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.
5. Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang bijaksana.
Yagna atau pemujaan atau pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi setiap manusia terhadap Yang Maha Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan bersihkanlah raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.
6. Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan mengesampingkan sesuatu pamrih. Inilah, oh Arjuna, keputusan dan pandanganKu yang final.
Jadi walaupun ketiga faktor penting di atas harus dilakukan, tetapi tetap saja menurut keputusan akhir (keputusan final) Sang Kreshna, perbuatan-perbuatan itu harus dikerjakan tanpa mengharapkan sesuatu imbalan dalam bentuk apapun juga, baik secara spiritual maupun duniawi. Ini sudah merupakan keputusan Yang Tegas, dari Yang Maha Esa, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di pihak lain setiap tindakan sehari-hari apapun juga harus tetap dilaksanakan tanpa pamrih tetapi demi kewajiban kita kepada semuanya dan terhadap Yang Maha Esa dan lokasangraha (kesejahteraaan demi kemanusiaan). Yang penting adalah penyerahan total dari semua nafsu dan keinginan, semua bentuk ego yang mementingkan diri sendiri. Kalau kita tidak mau menyerahkan pikiran-pikiran negatif ini secara total, maka timbullah kama (nafsu dan keinginan) yang sebenarnya sudah ada dan hadir dalam pikiran dan indra-indra kita.
Sering timbul pertanyaan bagaimana caranya untuk menyingkirkan kama ini? Menurut teori di Barat yang diilhami oleh Freud, maka sebaiknya kama dijadikan teman saja dan semua keinginannya dipenuhi saja. Tetapi ajaran Hindu menolak mentah-mentah hal ini, karena kama ini ibarat api dan kalau dipenuhi terus menerus semua hasrat-hasratnya maka ibarat memberi minyak pada api ini, yang akibatnya adalah makin membara dan membesarnya api ini. Lalu ada ajaran yang mengatakan tindaslah kama atau nafsu ini. Tidak, menindasnya tidak menolong sama-sekali, karena bentuk nafsu atau kama ini tidak dapat ditindas karena sifat-sifatnya yang tidak dapat dimengerti dan amat misterius, apalagi oleh mereka yang masih jauh dari jalan spiritual.
Jalan yang benar untuk menjauhkan kama atau nafsu ini adalah dengan abhyasa atau meditasi, dengan usaha upaya atau praktek yang berketerusan. Dengan kata lain, seperti yang dianjurkan oleh Bhagavat Gita, yaitu dengan kendali diri yang disertai dengan penuh kesadaran atau mawas diri. Dengan kesadaran dan tekanan pada pikiran kita bahwa sebenarnya indra-indra dan nafsu kita juga bisa diarahkan ke arah yang positif secara spiritual dan duniawi, yaitu ketenangan dan kekuatan, kesucian dan kebenaran. Langkah demi langkah, secara perlahan tetapi pasti kita harus mengarahkan pikiran kita dan mengendalikannya (bukan menghentikannya sama sekali, tetapi mengendalikannya!) secara positif.
Secara perlahan pastikan diri kita bahwa pemuasan nafsu-nafsu indra-indra kita secara tanpa kendali itu bukanlah cara dan jalan yang baik, begitupun menindas nafsu ini bukan juga jalan keluar. Jalan yang terbaik adalah yang terletak di tengah-tengah kedua metode tersebut, yaitu kendali-diri dengan mengendalikan nafsu-nafsu yang beraneka-ragam ini dan mempergunakannya seperlunya saja dan secara positif. Sadarlah akan suatu pengetahuan, yaitu tubuh kita ini dibentuk ibarat mata-pisau yang tajam dan peka; pisau itu dapat dipergunakan untuk tujuan positif seperti memotong sayur-sayuran dan kayu, atau untuk hal-hal negatif seperti membunuh atau merampok orang. Lalu bagaimana seharusnya kita gunakan tubuh ini dan semua indra-indranya. Untuk tersesat di dunia ini tanpa kendali dan terikat selama-lamanya secara duniawi atau untuk mengabdi dan kembali mengenal Yang Maha Esa.
Dalam melakukan kendali diri yang penuh kesadaran ini, maka setahap demi setahap akan terbuka horizon baru dalam kehidupan kita dan akan nampak pergantian yang ajaib, misterius dan penuh dengan mukjizat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata karena merupakan suatu pengalaman yang misterius dan spiritual. Seseorang yang indra-indranya terkendali dan terpakai secara positif akan menemui pengalaman-pengalaman unik, karena jiwa dan pikirannya yang bersih akan melakukan kontak-kontak ke obyek-obyek indranya dengan hasil yang berlainan sifatnya dari yang dialami selama ini. Kontak-kontak spiritual akan berlangsung secara otomatis, ingat pisau yang bermata dua, begitu pun indra-indra kita dapat dipergunakan secara duniawi dan secara spiritual, suatu potensi yang tersembunyi tetapi amat dahsyat karena kita tidak tahu akan hal ini selama kita terjebak dengan yang duniawi.
Setelah itu akan timbul, secara perlahan tetapi pasti, sinar atau penerangan dalam hidup kita. Dan sekali ini tercapai maka seseorang yang telah hasil kerjanya secara total kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih, akan menjadi seseorang yang tetap bekerja di dunia ini sesuai dengan kewajibannya, tetapi sama sekali tanpa nafsu atau keinginan duniawi, karena ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih menarik lagi dari semua itu, sesuatu kekuatan yang misterius dan membahagiakannya secara lahir dan batin, ia pun akan menjadi pusat dan inspirasi atau penerangan bagi mereka-mereka yang masuk ke dalam radius pengaruhnya. Jalan ke arah ini memang nampaknya sukar untuk manusia, tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini seandainya seseorang telah beritikad ke arah itu, karena memang setiap manusia diberikan potensi yang amat besar untuk melakukannya. Jadi terserah kita lagi, jalannya memang sukar, dan banyak jatuh-bangunnya, banyak jurang dan jeram yang menghadang, tetapi Yang Maha Esa sendiri secara “pribadi” akan menuntun kita, akan membimbing kita dan mengajarkan kita cara-cara mengatasi semua rintangan ini dan individu-individu yang kuat akhirnya akan sampai kepadaNya, karena itulah janji Yang Maha Esa kepada kita semua dan itulah tujuan yang dimaksud olehNya, yang telah ditentukan olehNya. Tanyakanlah kebenaran akan hal ini kepada mereka-mereka yang dianggap telah mencapai kesadaran ini, dan semua kebenaran akan dijawab dengan kebenaran. Om Tat Sat.
7. Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan yang sudah seharusnya itu, adalah tidak benar. Memasrahkan dengan cara tersebut karena kebodohan, disebut bersifat tamasik (gelap).
Pekerjaan atau perbuatan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban seseorang dan merupakan keharusan sehari-hari (tertera jelas dalam pustaka-pustaka Hindu), tidak boleh dikesampingkan dengan alasan apapun juga. Berbuat demikian menandakan kebodohan yang amat dalam dari si pelaku tersebut. Begitupun tindakan seperti dana, tapa dan yagna, berulang-ulang ditekankan agar tidak diabaikan, karena merupakan penyucian dari jiwa dan raga kita.
Tyaga sendiri terbagi dalam tiga sifat, yaitu tamasik, rajasik dan sattvik. Tyaga yang sejati adalah yang bersifat sattvik di mana lepas sudah bahkan itikad akan hasil atau buah dari tyaga itu sendiri. Sedangkan dalam sifat tyaga yang tamasik terlihat jelas dominasi dari keterikatan (moha), ilusi, kebodohan, kegelapan dan hasrat untuk mendapatkan imbalan-imbalan tertentu baik secara spiritual maupun duniawi. Tyaga semacam ini disebut gelap sifatnya. Misalnya: seorang pria meninggalkan semua pekerjaannya atau kewajiban rumah-tangganya demi seorang wanita atau demi menuntut suatu kesaktian tertentu untuk tujuan duniawi, ini disebut cinta-duniawi yang menyesatkan dan bukan tyaga pemasrahan total.
8. Seseorang yang tidak mau bertindak sesuatu karena merasa tindakan itu menyusahkannya atau khawatir akan menjadi derita untuk fisiknya, disebut melakukan tyaga bersifat rajasik. Dan tyaga semacam ini tidak akan menghasilkan keuntungan apapun juga.
Tyaga bersifat rajasik tidak akan menghasilkan mukti (pembebasan) karena seorang yang melakukan tyaga ini hanya melakukannya demi menjauhi derita, tantangan hidup dan kesusahan atau kerja keras.
9. Seseorang yang melakukan sesuatu tindakan seperti yang telah diwajibkan, oh Arjuna, karena harus dilakukannya, tanpa keterikatan dan pamrih – tyaga semacam itu dipandang sebagai bersifat sattvik (bersih).
Tyaga yang sejati adalah yang bersifat sattvik, yaitu tyaga yang tanpa keterikatan, hasil atau buah. Pekerjaan yang dilakukan ini sudah menjadi kewajibannya sesuai dengan anjuran dan kaidah-kaidah yang tertulis di buku-buku suci. Dan semua kewajiban ini dilaksanakan sebagai kewajiban semata tanpa mencari atau mengharapkan sesuatu keuntungan, imbalan dan rasa egoisme.
10. Seseorang bijaksana yang telah diliputi oleh sifat-sifat sattva (kesucian), yang keragu-raguannya telah terbuang jauh – seseorang yang pasrah semacam ini tidak membenci sesuatu tindakan yang tidak menyenangkan, juga tidak terikat pada suatu tindakan yang menyenangkan.
Seorang tyagi (pelaksana tyaga) yang telah pasrah total kepada Yang Maha Esa, yang telah menyerahkan diri dan semua tindakan-tindakannya sekecil apapun perbuatan atau tindakan tersebut kepadaNya dan telah mencari dan mendapatkan perlindunganNya, tak akan pernah ragu-ragu dalam bertindak apapun juga. Baik itu tindakan nikmat dan memberikan kepuasan dan kesenangan ataukah tindakan itu memberikan rasa derita, kegagalan atau kedukaan, baginya sama saja sifatnya. Baginya yang wajib adalah bekerja, dan semua emosi, hasil atau efek dari pekerjaan itu tidak penting sifatnya karena ia sadar bahwa ia tidak menghasilkan atau memberikan suatu efek kepada setiap tindakannya, melainkan semua itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dan terjadilah kehendakNya sesuai dengan keinginanNya, ia hanya alat dan sebuah alat hanya berkewajiban untuk bekerja sewaktu dipergunakanNya dan tidak berhak untuk memprotes majikan yang mempergunakannya ataupun menilai hasil kerja dari alat itu sendiri.
Semuanya terserah kepadaNya. Baginya nikmat dan derita sama saja rasanya, saling mengisi malahan, dan semua itu diterimanya dengan sama rata dan tanpa banyak mengeluh. Jadi dengan kata lain, Sang Kreshna Yang Maha Pengasih sedang mengajarkan Arjuna dan kita semua agar menerima dan memainkan peranan kita masing-masing di dunia ini secara setia dan penuh semangat. Jangan berduka atau bersuka baik dalam kegagalan maupun dalam kesuksesan. Pasrahkan semuanya kepada Yang Maha Esa!” Karena hanya kehendakNya saja yang akan terlaksana, bukankah kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan di dunia ini, dan sekali kita lahir dan tumbuh, lalu mengapa harus kita yang mengatur hidup ini, mengapa tidak dikembalikan semua skenario kehidupan ini kepada Sang Sutradaranya sendiri. Camkanlah pesan ini dan jadilah sebuah alat yang baik atau seorang pemain sandiwara kehidupan ini yang baik dan penuh dedikasi.
Seseorang yang bekerja sesuai dengan kewajibannya sadar bahwa suatu kewajiban yang dilaksanakan tanpa pamrih akan menuntunnya ke arah penerangan Ilahi, ke arah pembebasan dari ikatan dan derita duniawi. Seseorang yang secara sejati bekerja tanpa pamrih tidak akan pernah mau mengkhayal mengharapkan sedikit pun akan penerangan Ilahi, semua pekerjaan ia lakukan secara tulus dan penuh dengan tekad, yaitu dengan pemikiran terjadilah kehendakNya semata, dan pekerjaan adalah hukum alam di dunia ini bagi semuanya, sebagai misi yang diembannya dari Yang Maha Esa. Itulah kaidah atau hukum spiritual ini – yakinlah akan Yang Maha Esa dan semua kehendakNya. Tyaga yang sejati berarti bekerja tanpa pamrih, bukan tidak bekerja sama sekali.
11. Sebenarnya, tidak mungkin bagi seseorang makhluk yang memiliki raga untuk tidak bekerja secara total. Sebenarnya, seseorang yang memasrahkan hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatannya — disebut sebagai seorang tyagi.
12. Tidak nikmat, nikmat dan perpaduan keduanya – ketiga sifat ini adalah hasil dari setiap perbuatan yang akan didapati setelah meninggalkan dunia ini, bagi mereka-mereka yang tidak menyerahkan perbuatannya. Tetapi bagi mereka-mereka yang telah menyerahkan hasil perbuatannya, tak ada semua itu.
Seorang tyagi yang sejati adalah seseorang yang tidak mengabaikan pekerjaannnya, tetapi hasil atau buah dari pekerjaannya. Dan di sloka di atas ini Sang Kreshna menyinggung soal hasil atau buah perbuatan seorang sanyasin, yaitu sesorang yang telah memasrahkan secara total dan tanpa pamrih seluruh efek dari perbuatan-perbuatan dan kewajibannya. Bagi orang semacam ini, menurut Sang Kreshna tak akan menghasilkan suatu efek atau buah (karma), karena perbuatan-perbuatannya telah menyatu dengan kehendakNya. Di Bhagavat Gita sering kita jumpai istilah-istilah seperti tyaga dan sanyasa, tyagi dan sanyasin, yang kesemuanya ini sebenarnya adalah istilah-istilah alternatif yang dipergunakan oleh Sang Kreshna dalam mengajar Bhagavat Gita. Sang Kreshna pada prinsipnya tidak menganjurkan seseorang agar melepaskan atau mengabaikan pekerjaannya. la hanya menganjurkan agar terjadi peralihan dari semua kamya-karma (pekerjaan yang bermotivasi sesuatu) ke nishkama (yaitu pekerjaan tanpa pamrih).
Seseorang yang tidak mempunyai motif-motif duniawi untuk setiap pekerjaannya adalah ibarat sebuah pohon yang lebat di tepi sebuah sungai (tempat yang subur). Buah pohon ini pergi ke orang-orang yang membutuhkannya. Sedangkan orang ini sendiri tidak perlu ke mana-mana lagi, karena ia sudah tegar dalam kewajibannya dan telah menyatu dengan Yang Maha Esa.
13. Pelajarilah dariKu, oh Arjuna, lima unsur penyebab, penyelesaian semua tindakan, seperti yang telah disabdakan dalam doktrin Sankhya.
14. Tempat bersemayam semua tindakan (raga ini), Sang Jiwa (Karta) berbagai organ tubuh (karanam), berbagai ragam usaha (cheshta) dan yang kelima, yaitu takdir (daivam).
Di sloka ini Sang Kreshna mulai menerangkan tentang lima penyebab atau unsur atau kondisi dari setiap tindakan sampai selesai atau (akhir dari tindakan/perbuatan tersebut). Yang pertama adalah adhishthanam, yaitu raga atau badan kita yang merupakan tempat bersemayam (rumah-tinggal) Sang Jiwa dan berbagai keinginan kita. Yang pertama ini adalah raga duniawi atau jasad kasar kita. Yang kedua disebut karta atau sang agen. Siapakah Sang Agen? Tidak lain dan tidak bukan adalah sang jiwa kita, personalitas dalam raga ini, sang raja ego. Bergabung dengan Sang Prakriti, Sang Jiwa ini pun lupa pada bentuknya yang Asal dan Asli, yaitu Atma-Svanipa, dan dalam keangkuhan rasa egoisme ia pun lain berkata “aku,” “akulah yang memiliki ini dan itu,” “akulah yang berbuat,” dan lain sebagainya. Dalam mencapai kebebasan jiwa kita, maka rasa ego ini harus dilepaskan agar tersingkaplah yang asli ini.
Yang ketiga disebut karanam atau instrumen/alat. Alat-alat ini adalah kesepuluh indra-indra, pikiran, rasa intelek, dan ahankara kita. Yang keempat adalah cheshta, yaitu usaha, fungsi prana atau energi-vital atau nafas dalam raga kita. Yang kelima disebut daivam, takdir, sesuatu yang tak terjangkau oleh manusia itu sendiri, pada hal ini yang menentukan dan menjadi jalan hidup kita sebenarnya; yang menghasilkan setiap usaha dan efeknya yang berhubungan dengan usaha atau perbuatan tersebut masing-masing. Daivam atau takdir ini adalah yang mengatur semua tindak-tanduk kita.
Kelima unsur penting ini adalah kelima instrumen yang menjadi penyebab dari semua tindakan kita baik yang positif maupun yang negatif, baik atau buruk, dalam perjalanan hidup kita.
15. Apapun tindakan yang diambil seseorang melalui raganya, kata-kata dan pikirannya, baik yang benar maupun yang salah – kelima unsur inilah penyebabnya.
16. Dengan begitu, seseorang yang salah pengertiannya, yang karena tidak terlatih kesadarannya, memandang dirinya sebagai satu-satunya pelaku (setiap perbuatannya) — sebenarnya orang-orang ini tidak melihat!
Seseorang yang berpikir sebagai pelaku tunggal dari setiap tindakannya adalah seorang yang egois, yang pandir dan terlalu buta untuk menyadari atau melihat suatu kenyataan Ilahi. Orang semacam ini disebut sebagai seorang yang gagal melihat hal yang sebenarnya.
17. Seseorang yang bebas dari itikad, egoisme, yang pengertian (intelektualnya) tidak tertutup, walaupun ia membunuh orang-orang ini, ia tidak membunuh, atau terikat (oleh perbuatan-perbuatannya).
Arjuna boleh saja membantai para Kaurawa (Kurawa = bahasa Jawa), dan selama ia berbuat itu bukan karena ego pribadinya, tetapi melainkan karena kewajibannya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, maka selama itu juga segala perbuatannya tidak akan mengikat dia dan di mata Sang Kreshna (Yang Maha Esa), ia bukan seorang pembunuh tetapi hanya sebuah alat dariNya belaka, tidak lebih dan tidak kurang.
Seseorang yang telah berada di atas kesadaran bahwa “akulah yang sebenarnya berbuat,” dan telah sadar akan Sang Atman, Sang Jati Diri, dan yang telah dapat mengatasi pikiran-pikiran perbuatannya, maka orang ini tidak dapat dipuji atau dihukum untuk setiap perbuatan-perbuatannya. Tetapi jangan sekali-kali menyalah gunakan sloka ini, karena bagi yang rasa ego, atau fanatismenya (fanatisme juga adalah suatu bentuk ego yang ekstrim!) masih tinggi, atau yang masih kurang kesadarannya, maka penghayatan yang salah akan berakibat amat fatal bagi sesamanya.
Lalu bagaimanakah cara yang terbaik untuk memahami sloka ini? Bhagavat Gita menekankan bahwa ada dua faktor penting yang harus diperhatikan dalam bertindak atau berbuat sesuatu, yaitu kebebasan dari rasa egoisme dan kesadaran yang tidak ternoda! Camkanlah hal ini secara sejati dan dengan hati-nurani yang bersih dan murni berdasarkan ratio atau intelektual anda sebelum bertindak sesuatu seperti yang dianjurkan di sloka ini. Mereka yang telah secara total berlindung di dalam Yang Maha Esa dan pasrah dengan segala kehendakNya, yang telah melewati rasa dualisme yang bertentangan, akan tahu secara sadar (sejati) akan makna dan perbuatan yang tertulis di sloka ini!
18. Pengetahuan, obyek pengetahuan (hal-hal yang diketahui), subyek yang mengetahui (yang mengetahui), adalah tiga unsur stimulus ke arah setiap tindakan. Sang alat, tindakan, dan sang jiwa adalah tiga unsur gabungan dari setiap tindakan.
Setiap tindakan ada dua penyebabnya: subyektif dan obyektif. Yang subyektif ini dimaksudkan dengan rangsangan-rangsangan awal dari setiap tindakan, yaitu suatu kondisi sebelum suatu tindakan diambil, yaitu konsep yang tergambar dahulu dalam benak pikiran, yang lalu ditransformasikan dalam bentuk tindakan ragawi. Keadaan ini disebut karmachodana, dan hal ini terdiri dari tiga unsur, yaitu pengetahuan, yang diketahui dan yang mengetahui.
Sedangkan yang obyektif disebut karmasangraha. Sewaktu sesuatu tindakan dilakukan, maka ada tiga faktor yang menyertainya: karana, yaitu alat, instrumen atau indra-indra kita; kemudian subyek tindakan/aksi, yaitu karta, Sang Jiwa; dan akhirnya, obyek tindakan/aksi, yaitu karma itu sendiri, yaitu akhir atau tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, karmachodana ini adalah perencanaan secara mental dan karmasangraha adalah perbuatan atau tindakan hasil dari perencanaan secara aktual.
19. Pengetahuan, aksi (tindakan) dan sang pemeran dikatakan dalam pengetahuan tentang sifat-sifat (guna-guna dalam filosofi Sankhya), ada tiga jenis saja, sesuai dengan perbedaan sifat-sifat (guna-guna) ini. Dengarkanlah juga dengan seksama mengenai hal ini.
20. Sesuatu pengetahuan dengan mana seseorang melihat Yang Maha Esa dan Tak Terbinasakan di dalam semua makhluk – tak terpisah-pisah di dalam keterpisah-pisahan – ketahuilah pengetahuan tersebut bersifat sattvik (bersih).
Dalam sesuatu kepercayaan yang bersifat sattvik, maka Yang Maha Esa dianggap Satu-Satu-Nya Inti Kehidupan yang hadir dalam setiap makhluk dan benda di alam semesta ini. Yang Maha Esa ini juga disebut sebagai Avyayam, yaitu Tak Terbinasakan, juga disebut sebagai Avibhaktam, yaitu Keseluruhan Yang Tak Terpisahkan.
Yang Maha Esa itu hadir secara sama rata dalam setiap makhluk, benda dan manusia. Baik dalam seorang kaya atau miskin, dalam seorang kriminal maupun dalam seorang pendeta, hadirlah Yang Maha Esa secara sama dalam setiap jiwa ini, tanpa diskriminasi atau perbedaan sedikitpun. Walau di alam semesta ini terdapat jumlah jiwa-jiwa yang tak terbatas dan terhitung jumlahnya, pada hakekatnya semua jiwa-jiwa ini ber Intisari atau berasal dari Satu, yaitu Yang Maha Esa. Jadi dengan kata lain, semua jiwa ini sifatnya Eka atau Satu dan identik dengan Yang Maha Esa. Pengetahuan atau kesadaran semacam ini disebut bersifat sattvik.
21. Pengetahuan yang melihat berbagai-ragam kelainan dalam berbagai makhluk-mahuk, setiap makhluk lain dari yang lainnya, yang beraneka-ragam pengetahuan itu ketahuilah olehmu sebagai rajasik.
Seseorang yang berpengetahuan rajasik memandang setiap makhluk atau benda di dunia ini sebagai terpisah-pisah atau berdiri sendiri-sendiri. Bagi orang semacam ini setiap individu makhluk, atau benda adalah unsur yang berbeda-beda. Pengetahuan rajasik adalah pengetahuan tentang nama dan rupa seseorang belaka, bukan pengetahuan tentang Intisari yang sejati. Ibarat seseorang yang tahu bahwa sesuatu benda disebut tempayan, tetapi tidak tahu bahwa benda tersebut dibuat dan berasal dari apa. Ibarat seseorang mengetahui apa itu lampu, tetapi tidak mengenal unsur cahaya di dalamnya, atau ibarat mengenal yang namanya baju tetapi tidak tahu unsur apa yang menjadi bahan dasar dari baju tersebut.
Bagi seorang yang berpengetahuan rajasik semuanya nampak berbeda-beda dan berlainan derajatnya. Bagi orang semacam ini status seseorang dewa, brahmana atau seekor tikus itu lain, padahal sabda Sang Kreshna semua yang ada di alam semesta ini berintikan satu unsur yang sama, yaitu Yang Maha Esa.
22. Pengetahuan yang tergantung pada suatu unsur atau obyek yang seakan-akan adalah segala-galanya, tanpa mau tahu akan asal-usul unsur tersebut, tanpa mau menyadari yang realitas, dan berpandangan sempit – disebut sebagai pengetahuan yang tamasik.
Pengetahuan yang bersifat tamasik adalah pengetahuan yang palsu dan tak berdasar sama sekali. Orang yang berpengetahuan ini amat sempit pandangannya. la melihat suatu obyek kecil sebagai sesuatu yang amat penting dan lalu bergantung kepada obyek tersebut seakan-akan tidak ada lagi yang lainnya di dunia ini. Misalnya seseorang yang mencintai seorang wanita cantik dan menganggap wanita tersebut sebagai segala-galanya di dunia ini, atau seseorang berpikir bahwa keluarganya adalah di atas segala-galanya di dunia ini, Tuhan lalu dinomorduakan. Hal semacam ini disebut moha (keterikatan) dan keterikatan ini disebut pengetahuan yang bersifat tamasik atau gelap.
Hal yang sama berlaku sekiranya seseorang hanya tergantung pada pesta-pesta pora, makanan atau kenikmatan dan keterikatan duniawi lainnya, yang memberikannya kenikmatan yang bersifat sementara dan merasa itulah arti kehidupan dunia. Pengetahuan semacam ini adalah hampa dan irasional. Pengetahuan tentang Sang Atman adalah pengetahuan yang sejati. Pengetahuan tentang logika duniawi yang berdasarkan perbedaan atau diskriminasi adalah rajasik. Sedangkan pengetahuan yang tanpa dasar, tanpa pengorbanan atau pengertian pada Yang Maha Esa adalah sifat tamasik.
23. Suatu tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari keterikatan, yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu pamrih dan yang dilakukan bukan karena cinta atau benci – tindakan tersebut adalah sattvik (bersih).
Suatu tindakan, aksi atau perbuatan yang bersih atau yang benar dan sejati disebut sattvik, yaitu perbuatan yang berdasarkan nilai-nilai moral, kewajiban dan prikemanusiaan. Pekerjaan seperti bekerja sehari-hari, mencari nafkah secara jujur demi kehidupan keluarga adalah pekerjaan yang bersifat sattvik. Seorang ibu yang mengasuh anak-anaknya dengan baik adalah seorang yang sattvik dan bekerja sattvik. Pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan yang dianjurkan pustaka-pustaka kuno seperti yagna, tapa dan dana adalah perbuatan sattvik. Berbicara jujur, menolong yang harus ditolong, memuja Yang Maha Esa adalah perbuatan sattvik yang harus dilakukan. Dan semua pekerjaan ini harus dilakukan tanpa mengharapkan kembali sesuatu pamrih atau imbalan dalam bentuk apapun juga baik dari siapapun maupun dari Yang Maha Esa atau para dewa-dewa.
Semua pekerjaan ini harus lepas dari rasa ego dan keterikatan, secara total harus dihayati bahwa yang berbuat ini sebenarnya hanya alat dari Yang Maha Esa, tidak lebih dan tidak kurang. Setiap pekerjaan harus dikerjakan lepas dari hawa-nafsu dan dengan tanggung-jawab dan penuh kewajiban terhadap sesama makhluk dan terutama terhadap Yang Maha Esa, karena Ialah sumber atau asal-mula kehidupan ini.
24. Tetapi suatu tindakan yang dilakukan secara penuh dengan ketegangan (stres) oleh seseorang yang ingin memuaskan keinginan-keinginannya, dan yang berdasarkan kepentingan dirinya – disebut bersifat rajasik (mementingkan diri pribadi).
Tindakan atau perbuatan rajasik selalu bercirikan kepentingan pribadi, dan tindakan ini sebenarnya tidak akan menghasilkan suatu keuntungan spiritual, melainkan akan menghasilkan duka atau penderitaan. Tindakan-tindakan rajasik ini memperlihatkan tanda-tanda khas seperti:
a. Tindakan-tindakan ini selalu dilakukan secara bergegas secara menggebu-gebu, dan penuh semangat yang menderu-deru, tetapi diikuti oleh rasa tegang yang luar biasa atau stres berat dan penghamburan energi secara sia-sia.
b. Pekerjaan ini dilakukan karena pengaruh karma (nafsu) atau keinginan-keinginan duniawi untuk mendapatkan kepuasan seksual, harta-benda, kedudukan, kekuasaan, wanita dan lain sebagainya.
c. Tindakan-tindakan ini dilakukan berdasarkan kepentingan atau kepuasan pribadi ego, kesombongan pribadi, dan ini semua disebut ahankara.
25. Tindakan yang dilakukan berdasarkan moha (cinta dan keterikatan duniawi) tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya – yang merugikan dan melukai yang lain – yang tak memikirkan kemampuan pribadinya – disebut sebagai tindakan atau perbuatan yang tamasik.
Ciri-ciri perbuatan atau tindakan tamasik adalah:
a. Dikerjakan karena keterikatan akan hal-hal yang sifatnya duniawi dan gelap.
Orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan ini sudah jauh tenggelam dalam kegelapan duniawi.
b. Dilakukan tanpa memikirkan akibat-akibatnya, yang bukan saja dapat menghancurkan dirinya, tetapi juga orang-orang atau makhluk-makhluk lainnya. Semua ini dilakukan tanpa pikir panjang karena mabuk kekuasaan, karena kenikmatan dunia dan lain sebagainya.
c. Dan perbuatan-perbuatan ini dilakukan tanpa melihat atau sadar akan keterbatasan orang yang melakukan ini, karena jalan pikiran yang sudah gelap dan buntu. Dan kalau ia gagal, ia akan menempuh segala jalan baik yang bersifat kekerasan maupun yang gelap, walaupun itu harus dibayar mahal olehnya.
26. Seseorang yang bertindak lepas dari keterikatan, yang pembicaraannya jauh dari rasa egois yang penuh dengan tekad yang teguh dan antusiasme yang tak tergoyahkan oleh sukses atau kegagalan – orang ini disebut sattvik karta (orang yang benar atau bersih perbuatannya).
Seorang sattvik karta ini benar-benar bertindak sesuai dengan kewajibannya, menerima semua kehendakNya. Dalam menghadapi sukses atau kegagalan ia tenang-tenang saja, dalam menghadapi yang jahat dan suci, yang busuk dan bersih, ia sama saja sikapnya. la maju terus dengan tekad yang amat teguh, yaitu selalu bertindak tanpa pamrih, hanya demi kebenaran dan kewajibannya terhadap Yang Maha Esa semata. Orang semacam ini memiliki beberapa tanda atau ciri khas:
a. la selalu bertindak tanpa pamrih dan keterikatan. la tidak membutuhkan pujian, jasa, sanjungan, keagungan dan kehormatan duniawi untuk apa saja yang dilakukannya.
b. la tidak membual akan apa yang dilakukannya. Tak mau ia berkata bahwa tanpa dia sesuatu hal mustahil terjadi. Setiap patah katanya jauh dari rasa egoisme atau demi kepentingan diri sendiri.
c. la penuh dengan kesabaran dan semangat yang tinggi. Dalam setiap halangan ia penuh dengan tekad, berjuang terus dan tidak patah semangat.
d. la memiliki rasa sama, yaitu selalu bersikap sama baik dalam menghadapi keuntungan maupun kerugian, baik dalam kesenangan maupun penderitaan. Tak tersentuh ia oleh kemenangan dan tak terganggu oleh kekalahan, sama dalam sukses maupun kegagalan.
27. Seseorang yang terombang-ambing oleh kepentingan nafsunya, yang mencari imbalan dari hasil perbuatannya, yang serakah, merugikan yang lainnya, yang tidak bersih (perbuatannya), yang terombang-ambing oleh kesenangan dan penderitaan — orang ini disebut seorang rajasik karta.
Seorang rajasik karta mempunyai beberapa tanda dan sifat-sifat tertentu seperti:
a. Ia tenggelam dalam nafsu duniawi beserta segala kenikmatannya. la terikat pada indra-indranya.
b. la selalu memerlukan imbalan untuk setiap perbuatannya. Setiap tindakannya penuh dengan motivasi tertentu.
c. Ia amat serakah.
d. la bersifat brutal, sifatnya ini selalu merugikan, melukai dan menyakiti orang lain, atau pun makhluk-makhluk lain,
e. Dalam setiap sukses dan kemenangan ia cepat gembira, dalam kegagalan dan kekalahan ia cepat putus asa.
28. Seorang yang tak stabil, kasar, keras-kepala, penuh kepalsuan, beritikad jahat, malas, tak punya harapan, mudah putus-asa, dan selalu menunda-nunda sesuatu — disebut seorang tamasik.
Seorang tamasik nampak aneh atau eksentrik dan tak berbudaya dalam tingkah-lakunya. Hati atau pikirannya tidak tertuju pada tindakan-tindakannya. la juga pandir dan keras kepala. la penuh tipu-daya dan licik atau penuh dengan kepalsuan. la gemar menunda-nunda sesuatu dalam tindakan dan perbuatannya, dan sering membatalkan sesuatu yang akan dikerjakan dengan alasan-alasan tertentu. la mudah putus asa dan orang dengan sifat-sifat ini bekerja atau bertindak dengan motif-motif kejahatan dan berdasarkan pengaruh jahat dan iblis. la bisa saja berwajah meyakinkan dan hidup mewah dan necis, tetapi secara kejiwaan ia tak berbudaya dan memiliki semua karakter tamasik di dalam dirinya.
29. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, diterangkan secara lengkap dan berulang-ulang, ketiga bagian, yang didasarkan pada ketiga guna (sifat-sifat) dari buddhi (intelektual) dan dhriti (kebulatan tekad).
Ada tiga macam atau jenis buddhi (intelektualitas atau kesadaran manusia). Dan juga ada tiga jenis sifat dari dhriti, yaitu tekad atau suatu keputusan tetap yang diambil seseorang berdasarkan kadar intelektualitasnya, atau kadar kesadaran dan pengertiannya.
Buddhi dan dhriti ini sangat dekat dengan setiap tindakan yang kita ambil. Buddhi menganalisa apa yang harus dilaksanakan seseorang dalam setiap aksi, sedangkan dhriti memutuskan dan menyelesaikan suatu aksi atau tindakan sehingga selesailah atau tuntaslah perbuatan tersebut. Buddhi dengan kata lain adalah suatu kekuatan yang dapat membedakan antara yang baik dan buruk, yang salah dengan yang benar. Sering sekali kita manusia memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk ditunjukkan jalan yang benar dalam menghadapi rintangan-rintangan di depan kita. Yang memohon ini sebenarnya adalah suatu faktor pengertian atau kesadaran, dan ini disebut buddhi (intelektualitas). Tindakan selanjutnya berdasarkan pengertian tersebut adalah yang didasarkan pada kebulatan tekad atau suatu keputusan yang tuntas, dan ini secara keseluruhan disebut dhriti.
30. Buddhi yang menyadari akan pravritti (tindakan yang benar) dan nivritti (tindakan yang tidak harus dilakukan) – apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, apa yang harus ditakuti dan apa yang tidak harus ditakuti, perbuatan dan pekerjaan apa yang mengikat dan apa yang membebaskan – pengertian (buddhi) tersebut, oh Arjuna, adalah sattvik (suet dan bersih).
Sloka di atas jelas sekali pengertiannya dan kita manusia seharusnya tahu akan apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita jauhi dan cegah. Siapakah sebenarnya yang harus ditakuti dalam hidup ini dan siapa pula yang harus kita lawan dan hadapi. Lebih dari itu pengertian atau kesadaran yang bersih akan memberikan pengetahuan akan apa yang mengikat secara duniawi dan apa saja yang akan melepaskan kita dari lingkaran penderitaan dan karma kita.
31. Sesuatu yang diketahui secara menyimpang, secara salah – tentang dharma dan adharma (yang betul dan salah), tentang apa yang harus diperbuat dan yang tidak harus dilakukan – pengertian semacam itu, oh Arjuna, bersifat rajasik.
Sesuatu pengertian atau buddhi yang bersifat rajasik yang terpengaruh sifat-sifat raja ini adalah suatu pengertian berdasarkan konsep yang salah atau menyimpang karena berdasarkan semangat egoisme. Pengertian semacam ini selalu mencampur-adukkan yang baik dan yang buruk. Sedangkan pengertian sattvik akan tegas dalam keputusan dan pengertiannya. Buddhi secara rajasik sering melakukan perbuatan salah dan menyimpang karena keputusan yang diambil selalu berdasarkan nilai-nilai yang salah persepsinya. Keputusan semacam ini mencampur-adukkan kewajiban dengan kesenangan, benar dengan salah, dan lain sebagainya dan menganggap semua itu adalah tindakan yang benar. Bagi seorang yang bersifat rajasik, nilai-nilai kebenaran jadi kabur penghayatannya.
32. Buddhi yang terbungkus oleh kegelapan, yang berpikir bahwa adharma (kesalahan) sebagai dharma (benar), dan melihat semuanya secara tidak benar – buddhi (atau pengertian) ini, oh Arjuna, adalah tamasik.
Suatu pengertian yang bersifat tamasik, malahan mengacaukan semuanya, semua nilai-nilai moral bisa saja jadi kacau-balau oleh pola pemikiran semacam ini. Semua ini karena kegelapan yang menyelimuti pengetahuan orang yang bersifat tamasik ini. Yang salah malahan terasa benar baginya. Buddhi ini tidak sadar atau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bagi seorang tamasik, pemujaan kepada Yang Maha Esa itu salah, bersikap anti-Tuhan dan anti-kebenaran malahan benar jadinya. Baginya kebenaran akan hidup dan dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Orang-orang semacam ini lebih condong ke arah kekuatan-kekuatan gelap.
33. Suatu tekad atau keputusan (yang diambil seseorang) yang tidak terombang-ambing sifatnya, melalui yoga atau konsentrasi pengendalian aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan dan indra-indranya – tekad tersebut, oh Arjuna, adalah tekad (atau keputusan) yang sattvik sifatnya.
Tekad atau keputusan ini disebut dhriti. Tekad yang bersih dan sattvik karena:
• bersifat tegas dan tidak mudah digoyahkan, alias stabil,
• diperkuat atau didasari oleh latihan-latihan dan konsentrasi yoga,
• mengendalikan secara benar aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan (meditasi) dan indra-indranya. Orang ini lalu mempunyai potensi lahir-batin yang amat kuat, tegas, teguh pendirian dan raganya.
Tekad yang bersifat sattvik ini, mengendalikan pikiran atau jiwa kita ke arah pengetahuan akan tenaga-tenaga yang tersembunyi dan juga potensi-potensi yang tak nampak tetapi sebenarnya banyak terdapat dalam diri kita. Juga akan terbuka potensi dan kekuatan yang ada di alam semesta ini yang dapat dikaruniakan kepada orang yang teguh, yang penuh dedikasi kepadaNya semata. Tekad sattvik kemudian menimbulkan kendali pada pemikiran kita, yang kemudian mengendalikan setiap tindakan kita, sehingga kita pun berubah menjadi sattvik, tanpa pamrih. Hanya bertindak karena harus dan karena kewajiban yang bersifat dedikasi semata.
Tekad yang bersih ini mendisiplinkan pikiran, nafas, dan indra-indra kita, dan diarahkan semua ini ketujuan yang benar. Indra-indra kita akan terkendali secara otomatis secara bertahap. Dan ini bukan ilusi, tetapi kenyataan yang telah dialami oleh mereka-mereka yang telah bersifat sattvik, walaupun dalam abad modern ini.
34. Seseorang yang bertekad kuat pada dharma (kewajiban), pada kama (kenikmatan), dan pada artha (harta) tetapi menginginkan imbalan untuk tekadnya ini – tekad semacam ini, oh Arjuna, adalah rajasik.
Tekad yang bersifat rajasik adalah suatu tekad yang hanya dilakukan untuk suatu imbalan tertentu.
35. Sesuatu tekad yang diambil seseorang, yang berasal dari kebodohan, terlalu banyak tidur, ketakutan, kesusahan, depresi dan kepentingan diri sendiri –tekad tersebut, oh Arjuna, bersifat tamasik (gelap).
Seseorang yang bersifat tamasik sangat keras sifatnya, tetapi kekerasannya bersifat ngawur, karena berdasarkan kemalasan dan kebodohan. Tindakan-tindakannya hanya berdasarkan opini sendiri yang didasarkan pada sifat-sifat pribadinya yang dominan dan serba gelap. la pun selalu dekat dengan rasa takut, depresi, penderitaan dan selalu berada di dalam lingkaran gelap.
36. Dan sekarang dengarlah dariKu, oh Arjuna, tiga bentuk kebahagiaan. Kebahagiaan ini, bagi seseorang yang mempelajarinya (mempraktekkannya), akan menghasilkan kebahagiaan yang mengakhiri penderitaannya.
37. Yang terasa bagaikan racun pada awalnya tetapi serasa air-surgawi pada akhirnya, dan yang terpancar dari pengertian yang murni dari Sang Atman -kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik (bersih).
Kebahagiaan sattvik yang sejati timbul dari kesadaran diri atau dari penampilan/wahyu atau wangsit dari Sang Atman pada diri kita. Tetapi kebahagiaan ini tidak mudah didapat karena harus dipelajari dan dipraktekkan untuk jangka waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan oleh seseorang, dan harus diikuti oleh kepasrahan total kepada Yang Maha Esa.
Ada tiga ciri khas sattvik-sukha (kebahagiaan sattvik) ini:
1. Dicapai dengan abhyasa (praktek dan usaha spiritual seperti pemujaan dan meditasi pada Yang Maha Esa secara berkesinambungan).
2. Sangat sukar dan pahit rasanya pada permulaan ini dilakukan, tetapi terasa nikmat dan manis pada akhirnya.
3. Tidak didapatkan dari suatu unsur luar raga kita, tetapi terpancar keluar dari diri sendiri yang sudah bersih dari awan-awan gelap dan kebodohan, terpancar keluar dari lubuk jiwa kita yang paling dalam. Sang Atman, Sang Jati Diri kita Yang Sejati akan memancarkan kenikmatan Ilahi ini secara langsung pada waktunya.
Sattvik-sukha ini bersifat ananda, yaitu bersifat amat menenangkan jiwa, suatu kebijaksanaan atau kesadaran yang amat menentramkan dan membahagiakan jiwa kita.
38. Sesuatu yang terjadi karena kontak-kontak indra dan obyek-obyeknya (vishaya), yang pada mulanya, terasa sebagai air-surgawi, tetapi pada akhirnya terasa sebagai racun – kebahagiaan atau sukha ini dikatakan sebagai rajasik.
Kenikmatan atau kebahagiaan rajasik itu terasa manis seperti amrita (air-surgawi) pada mulanya, karena memang bersifat duniawi dan tercipta akibat hubungan antara obyek-obyek sensual dan indra-indra kita. Tetapi sesudah itu berakibat penderitaan yang amat menyakitkan. Semua kenikmatan duniawi baik itu secara seksual, maupun melalui pesta-pora dan hidup mewah terasa nikmat pada mulanya tetapi selalu terasa pahit pada akhirnya, karena tidak disertai oleh nilai-nilai moral yang sejati, yaitu demi dan untuk Yang Maha Esa semata, tetapi demi kesenangan dan kenikmatan pribadi, dan ini disebut kebahagiaan rajasik, yaitu bersifat sementara saja.
39. Kenikmatan yang pada mulanya dan kemudian selanjutnya menyesatkan sang jiwa, dan yang timbul dari tidur, kemalasan dan kekurangan perhatian –kenikmatan tersebut dikatakan tamasik (gelap).
Kenikmatan tamasik sudah menyesatkan dan menderitakan seseorang dari awal-mula dan selanjutnya pada akhirnya tetap mendatangkan penderitaan. Seseorang yang terbius secara tamasik ini tenggelam dalam kenikmatan yang diakibatkan oleh kebodohan, kekurang-pengetahuan, dan kekacauan jiwa-raganya.
40. Tak ada satu makhluk pun, baik di bumi atau juga di antara para disvarga-loka, yang bebas dari ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) ini, yang lahir dari Prakriti (alam).
41. Mengenai para Brahmin, Kshatrya, Vaishya dan para Sudra, oh Arjuna, aktivitas-aktivitas mereka ini telah dijelaskan, sesuai dengan guna-guna yang lahir dan sifat sejati mereka.
Svabhava, atau sifat seseorang, adalah pembawaan karma seseorang atau sesuatu makhluk dari kehidupan masa lampaunya. Keempat varna (sistim kasta) manusia pun terpengaruh oleh sifat atau guna-guna ini, dan semua itu mempengaruhi cara kerja atau sifat perbuatannya. Svabhava dengan begitu menentukan suatu kewajiban atau perbuatan seseorang berdasarkan guna-guna yang dominan dalam orang tersebut. Kewajiban setiap varna dengan kata lain datang dari Prakriti itu sendiri.
Sattva dominan dalam seseorang yang ditakdirkan menjadi Brahmin sejati, raja dominan dalam seorang Kshatriya, dan kemudian setelah sifat raja ini menyusul dua sifat, yaitu sattva dan tama dalam Kshatriya. Dalam Vaishya yang dominan adalah unsur atau sifat raja plus tama, unsur sattva menyusul kemudian.
Dalam Shudra, unsur yang dominan adalah tama, kemudian menyusul raja dan terakhir sattva. Tetapi ingat dalam naungan Sang Atman, setiap makhluk dan manusia adalah sama, yaitu hanya satu unsur, yaitu Sang Atman Sendiri. Dalam IntiNya yang sejati dan secara spiritual kita semua adalah berasal dari satu unsur yang tunggal. Satu dalam perjalanan, tujuan dan takdir kita. Tetapi di dalam olahan sang Prakriti kita berbeda-beda, dan ingat sistim varna atau kasta adalah produk dari sang Prakriti ini!
Semua bentuk kasta-kasta ini adalah ibarat alat-alat atau anak-anak dari Yang Maha Esa. Kepandaian, ilmu pengetahuan, dan kekayaan dunia lahir dan batin, dibagikan secara sama rata kepada masing-masing kasta ini sesuai dengan kewajiban-kewajibannya di dunia ini untuk mencapai Yang Maha Esa kembali. Tetapi tidak ada perlombaan kekuasaan atau kedudukan atau diskriminasi yang dianjurkan di antara mereka-mereka ini. Yang ada hanya sifat-sifat dominan pada seseorang, dan sifat-sifat inilah yang menentukan kewajibannya dan kastanya. Jadi kasta itu ditentukan oleh jenis sifat, pekerjaan dan perbuatan seseorang sehari-hari dan bukan karena status kelahiran seseorang. Seseorang dalam perjalanan hidupnya di dunia ini bisa raja berubah dari seorang yang lahir secara (atau tidak) Vaishya menjadi seorang brahmana sesuai dengan panggilan atau ketentuan Ilahi, menurut takdirnya masing-masing, dan begitupun sebaliknya. Mukti atau pembebasan spiritual terbuka untuk siapa saja tanpa pandang bulu, yang penting seseorang itu mau bertindak tanpa pamrih, dan penuh dengan dedikasi yang luhur terhadap Yang Maha Esa.
Sekali lagi ditegaskan di sini, Svabhava adalah sanskara (penderitaan duniawi) yang diakibatkan oleh perbuatan dari kelahiran yang silam. Sesuai dengan sanskara ini, maka dalam hidup ini terciptalah pada seseorang unsur-unsur sattva, raja dan tama. Dan sesuai atau berdasarkan guna ini timbullah keempat sistim varna (kasta) atau jenis-jenis profesi dan perbuatan masing-masing orang, bukan diskriminasi atau perbedaan kekayaan/kedudukan/status seseorang. Status seseorang, makhluk dan benda di mata Yang Maha Esa adalah sama saja, yaitu satu: sebagai alatNya belaka, tidak lebih dan benda tidak kurang. Om Tat Sat.
42. Ketenangan, pengendalian diri, disiplin spiritual, kebersihan lahir-batin, kesabaran, menjunjung tinggi kebenaran, kebijaksanaan, pengetahuan dan iman — adalah kewajiban seorang Brahmin, lahir dari sifatnya yang pribadi.
Keempat sistim varna ini sebenarnya kalau ditinjau dengan kaca-mata yang benar, maka melambangkan suatu fungsi sehat dari suatu tata-negara dalam satu negara yang baik dan bijaksana pemerintahannya. Negara yang sehat dan kuat, aman dan makmur adalah suatu negara di mana kaum brahmana, kshatriya, vaishya dan sudra bersatu, bergabung, bahu-membahu bekerja demi kesejahteraan yang lainnya, dan bukan saling mendepak, menjatuhkan atau merendahkan lainnya.
Tetapi inti dari sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah kaum Brahmin. Bukan harta-benda atau jumlah tentara yang melimpah-ruah, bukan perencanaan ekonomi yang fantastis, atau pidato-pidato kosong yang muluk-muluk para politisi, tetapi kehidupan orang-orang awam yang berdedikasi, bermoral tinggi dan beragama secara saleh, yang sebenarnya menjadi dasar atau sendi utama dari varna atau kasta-kasta lainnya. Dan orang-orang yang sederhana tetapi bermoral tinggi inilah yang sebenarnya yang disebut brahmin-brahmin dalam arti yang sebenarnya, yang orientasinya selalu dalam menegakkan dharma dan bhaktinya. tanpa pamrih demi Yang Maha Esa dan masyarakat banyak. Dan kalau masyarakat banyak bermoral baik, maka negara itu akan baik, sehat dan kuat. Tetapi seandainya masyarakat itu sakit, maka negara itupun akan sakit dan lemah. Semakin banyak yang bersifat brahmin dalam suatu masyarakat atau negara makin jayalah negara itu, karena akan selalu jauh dari unsur-unsur yang merugikan. Seorang brahmin sejati adalah seorang guru bagi sesamanya.
43. Keberanian, semangat, ketegaran, pandai berunding, tidak bersifat pengecut (tidak lari dari suatu peperangan), bermurah-hati dan berwibawa sebagai pemimpin (sifat asli seorang pemimpin) – semua ini adalah kewajiban seorang kshatriya yang lahir dari sifat-sifat pembawaannya.
Brahmin yang sejati adalah guru, dan kshatriya yang sejati adalah pengayom masyarakat yang bersedia mati setiap saat ia dibutuhkan demi tegaknya kebenaran, kedamaian dan kemajuan atau kemakmuran suatu negara dan masyarakat. Orang-orang yang berjiwa kshatriya tidak mengenal takut, selalu bersemangat baja, dan tak mudah dipengaruhi oleh uang dan harta-benda. Harapan bangsa terletak di pundak mereka, dan itulah dharma-bhakti mereka pada Yang Maha Esa dan masyarakat. Salah satu contoh adalah Sang Bhishma, suatu waktu Yudhishthira pernah memohon kepada Sang Kreshna agar ia dijadikan muridnya. Oleh Sang Kreshna ia diminta berguru ke Bhisma, dan salah satu ajaran Sang Bhishma pada Yudhishthira adalah, “Di mana Sang Kreshna bekerja, di situ terdapat dharma (kebenaran), di mana dharma berfungsi, di situ terdapat kemenangan.” Seorang kshatriya sejati adalah yang bekerja berdasarkan dharma, dan tak merasa takut akan apapun juga selain Yang Maha Esa. Biasanya seorang pemimpin semacam itu sudah lahir dengan wibawa dan kharisma semacam itu. Maka dikatakan, seorang kshatriya adalah seorang pemimpin bangsa, sedangkan seorang brahmin adalah guru dari masyarakat (semuanya).
44. Berladang, menjaga ternak dan berdagang adalah kewajiban seorang vaishya, lahir dari sifat pribadinya. Tindakan atau perbuatan yang bersifat jasa atau pelayanan (masyarakat) adalah kewajiban seorang shudra, yang lahir dari sifat pribadinya.
Seorang yang berkarakter atau hidup sebagai seorang vaishya berciri khas seperti (1) petani dan yang berhubungan dengan pertanian, (2) beternak dan menjaga agar ternak-ternak dipelihara dengan baik karena sapi, kerbau dan sejenisnya dianggap suci dan amat bermanfaat dalam agama Hindu, (3) berdagang atau berwira swasta dalam berbagai bidang ekonomi adalah sifat-sifat dominan seorang vaishya. Sedangkan yang digolongkan sebagai shudra adalah orang-orang yang berkerja di bidang jasa atau pelayanan secara umum, juga sebagai buruh, karyawan, dan petugas dalam segala bidang pekerjaan milik pemerintah maupun non-pemerintah.
Dengan demikian jelaslah sudah bahwa sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah pembagian golongan kerja, dan bukan pembagian hak hidup seseorang yang dapat diatur semena-mena. Tidak boleh ada orang yang merasa dilahirkan dalam kasta ini atau kasta itu. Yang benar adalah sewaktu seseorang tersebut dewasa dan ingin menentukan pekerjaan dan jalan-hidupnya sendiri maka terserah olehnya pekerjaan apa yang akan dipilihnya. Jadi sistim kasta yang berlaku sekarang ini yang membeda-bedakan, hak, status, nama dan sebutan, dan pekerjaan adalah salah besar. Yang benar itu, kasta ini hanyalah sekedar pembagian golongan, yang dalam abad modern ini bisa disebut sebagai berikut: para rohaniwan untuk sebutan modem para brahmana (tercakup di dalamnya para guru dan ilmuwan dan lain sebagainya yang berhubungan), kemudian para ekonom adalah sebutan modern atau masa kini untuk para pedagang, bankir dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bidang ekonomi, para petani dan nelayan termasuk juga dalam golongan ini. Para politisi, pejabat negara, tentara dan pamong-praja dan lain sebagainya adalah istilah modern para kshatriya; dan para buruh, pekerja, petugas dan lain sebagainya yang berstatus bekerja pada seseorang, negara, dan lainnya disebut shudra. Keempat golongan ini menjadi tiang-tiang utama dari sebuah negara, dan saling menunjang karena setiap tiang ini sama kekuatan dan kedudukannya. Satu tiang patah maka patahlah juga tiang-tiang lainnya, karena tidak akan mampu menyanggah negara yang ibarat sebuah gedung besar bertiang empat.
Seandainya sesuatu bangsa dan negara tidak melakukan suatu diskriminasi dengan, golongan-golongan yang ada di dalamnya, dan menghargai setiap golongan ini, maka aman-sejahtera dan sentosalah negara ini. Berbeda-beda tetapi eka, berbagai aspirasi tetapi satu tujuan, yaitu kesejahteraan bagi sesama dan semuanya adalah misi yang dikandung di sloka-sloka di atas ini, dan ingat bukan perbedaan kasta yang diskriminatif. Sebuah bangsa dan negara yang besar, maju dan sejahtera adalah yang masyarakatnya harmonis, dan duduk sama penting di antara sesamanya.
45. Seseorang mencapai kesempurnaan apabila ia berdedikasi kepada kewajibanya sendiri. Dengarkanlah olehmu bagaimana kesempurnaan ini didapatkan oleh seseorang yang setia kepada kewajibannya sendiri.
Yang dimaksudkan dengan kesempurnaan ini adalah penyadaran akan Ilahi. Seseorang dapat mencapainya dengan bekerja secara setia dan penuh dedikasi kepada kewajibannya sendiri, yaitu bekerja sesuai dengan sifat sejati yang dimilikinya. Sewaktu seseorang menyerahkan semua pekerjaan dan perbuatannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih sedikitpun, maka secara bertahap ia akan mencapai kesempurnaan ini atas karuniaNya. Tidak menjadi masalah kalau pekerjaan itu secara duniawi sifatnya amat sederhana atau kecil. Sekali perbuatan atau pekerjaan ini diserahkan secara total kepadaNya maka terbukalah jalan ke arah Yang Maha Esa.
Bekerjalah demi Yang Maha Esa sesuai dengan sifat-sifat kita yang sejati, janganlah iri atau berganti-ganti profesi karena harta duniawi, padahal belum tentu kita menghayati pekerjaan baru kita karena tidak berbakat ke arah itu. Pekerjaan, profesi atau perbuatan seharusnya dilakukan karena dedikasi kita kepada Yang Maha Esa, bukan karena nafsu atau keinginan duniawi. Maka sebaiknya setiap orang mengerjakan pekerjaan yang disenanginya, dihayatinya dan sesuai kodratnya, walaupun profesi tersebut tidak menghasilkan sesuatu harta duniawi. Harta sesungguhnya di dunia ini adalah Yang Maha Esa sendiri dengan segala karunia-karuniaNya, jadi seyogyanyalah kita selalu bekerja demi Yang Maha Esa semata, tanpa pamrih dan tulus jiwa-raga. Om Tat Sat.
46. la dari siapa semua makhluk dan benda ini datang dan oleh siapa seluruh ciptaan ini dijaga – dengan memujaNya melalui kewajibannya masing-masing, maka seseorang akan mencapai kesempurnaan.
Suatu pekerjaan yang menjadi kewajiban seseorang dapat menjadi pemujaan kepada Yang Maha Esa seandainya semua itu dipersembahkannya kepada Yang Maha Esa secara mental dan ragawi, untukNya, demi Ia semata tanpa pamrih. Tetapi pekerjaan ini harus selaras dengan kewajiban orang tersebut, yang juga senada dengan kewajibannya terhadap sesamanya secara tulus, bukan pekerjaan atau perbuatan orang lain yang ditiru atau dipaksakan olehnya.
Yang Maha Esa adalah sumber segala ciptaanNya di alam semesta, dan Ia juga yang menjaga semua itu, maka dengan bekerja demi Yang Maha Esa sesuai kewajiban kita masing-masing sebenarnya seseorang ikut melestarikan dan menjaga alam semesta ini. Dan Yang Maha Esa pun lalu tentu dengan senang hati akan membuka jalan ke arah kesempurnaan bagi sang pemuja yang penuh dengan bakti yang tulus ini.
47. Lebih utama dharma seseorang itu sendiri, walaupun ada kekurangan-kekurangannya, daripada melakukan dharma orang lain walaupun dikerjakan dengan baik. Seseorang yang melakukan dharmanya sendiri, yang didasarkan pada sifatnya pribadi (svabhava), tidaklah berdosa.
Jangan sekali-kali mengabaikan kewajiban anda, untuk sesuatu perbuatan atau pekerjaan orang lain, walaupun perbuatan atau pekerjaan tersebut nampak dan terasa lebih baik dan menghasilkan laba yang lebih besar, atau nampaknya lebih bermanfaat daripada pekerjaan seseorang itu sendiri. Contoh: seorang yang bersifat dan berpembawaan sejati sebagai brahmana janganlah melakukan pekerjaan seorang politisi, akibatnya bisa kacau nanti semua hasil akibatnya lahir dan batin. Pekerjaan atau kewajiban kita yang asli adalah di mana svabhava (sifat pembawaan) kita menemukan ekspresi keluarnya yang sejati tanpa berdasarkan suatu rasa iri-hati, dengki dan cemburu. Biarkanlah alam bekerja melalui diri kita masing-masing secara alami, dan itu akan lebih utama bagi kita, daripada menentang kodrat dan kemauan alam yang ada dan hadir setiap saat dalam diri kita.
Seorang tukang pembuat sepatu sebaiknya bekerja sebagai tukang sepatu, ia boleh bercita-cita setinggi langit, itu haknya, tetapi ia lebih baik mengembangkan usaha yang dihayatinya daripada ia merasa iri-hati terhadap salah satu saudaranya yang diangkat menjadi kepala desa oleh masyarakat setempat. Begitu iri-hatinya sang tukang sepatu sehingga ia mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan posisi tersebut, padahal ia sama sekali tidak menghayati peranan seorang kepala desa yang harus bekerja untuk seluruh masyarakat di sekitarnya tanpa pamrih. Hal semacam ini tidak akan diterima oleh Yang Maha Esa, dan semua usahanya sia-sia saja secara spiritual. Ia, Yang Maha Esa, lebih mengutamakan kewajiban seorang yang sejati walaupun sifat pekerjaan itu sederhana saja, karena pekerjaan yang sederhana ini kalau dikerjakan penuh dengan dedikasi kepadaNya semata akan mengantar orang ini ke moksha. Seorang penjaga toko atau seorang kusir kereta yang sederhana mungkin lebih dekat dengan kehidupan yang benar dan sejati dibandingkan seorang raja atau presiden yang hidupnya bergelimang kemewahan tetapi lupa akan kewajibannya yang sejati akan rakyat yang menjadi tujuannya mengabdi.
48. Yang sudah menjadi kewajiban seseorang walaupun cacat, tidak boleh dilepaskan. Karena semua perbuatan itu terselubung oleh kecacatan ibarat api yang terselubung oleh asap.
Jangan sekali-kali melepaskan kewajiban yang sudah menjadi panggilan nurani kita yang tulus dan sebenarnya. Walaupun kewajiban tersebut terasa kurang sempurna dalam pelaksanaannya. Karena sebenarnya tidak ada sesuatu pekerjaan pun, atau aksi dan perbuatan yang sempurna. Semuanya selalu ada saja cacat atau kurungnya, yang sempurna adalah Yang Maha Esa dan segala kehendak-kehendakNya, yang scring sekali tidak dapat dimengerti oleh manusia. Secacat-cacatnya suatu pekerjaan pada mulanya, pasti akan lebih sempurna pada tahap-tahap selanjutnya. Bekerjalah sesuai dengan kewajiban kita semata, dengan segala ketulusan dan kesucian hati kita, dan secara bertahap akan makin dekatlah kita kepadaNya.
49. Seseorang yang buddhinya (pengertian) tidak terikat di mana pun juga, yang telah mengendalikan dirinya, yang keinginannya telah lari jauh – dengan pemasrahan segala hasil pekerjaannya secara total, orang ini menuju ke Kesempurnaan Yang Agung yang disebut naishkarmya (kebebasan dari perbuatan atau tindakan).
Inilah salah satu petunjuk penting dalam Bhagavat Gita, yaitu melalui suatu perbuatan atau tindakan, seseorang dapat mencapai suatu bentuk kesempurnaan dalam non-tindakan atau non-aksi (perbuatan). Kesempurnaan ini adalah suatu kebebasan dari karma, kesempurnaan ini adalah suatu penyadaran akan Yang Maha Esa secara sejati. Ada tiga tahap dalam jalan ke arah kesempurnaan ini: a. Pada tahap pertama seseorang melepaskan rasa ego, rasa “ke-aku’an” nya, rasa memiliki, rasa superior atas dirinya sendiri, atas setiap tindakan dan perbuatannya. b. Pada tahap kedua ia melepaskan semua hasil atau buah dari perbuatan, aksi dan tindakannya, termasuk hasil dari semua pekerjaannya. c. Pada tahap ketiga ia melepaskan semua pemikiran atau ide-ide mengenai kewajibannya, ia melepaskan semua karma-karmanya. la menjadi tuan atau majikan bagi dirinya sendiri, yaitu yang dalam agama Hindu disebut mencapai suatu kekuatan dari non-perbuatan (non-aksi yang sempurna). Ia dengan kata lain mencapai penyatuan dengan Sang Brahman, Yang Maha Agung, yang jauh dari semua tindakan-tindakan di dunia ini. la sadar sesungguh-sungguhnya bahwa bukan ia yang bekerja, tetapi Ia yang bekerja dan berbuat, sesuatu non-aksi dalam setiap aksi.
Dalam sloka di atas, sanyasa yang berarti penyerahan total dari setiap hasil perbuatan disamakan dengan tyaga yang berarti penyerahan atau pelepasan nafsu dan keinginan. Naishkarmya di sloka di atas bukan berarti akarma, melainkan berarti tidak berbuat aksi atau tindakan yang dapat menimbulkan keterikatan duniawi.
50. Pelajarilah dariKu secara singkat, oh Arjuna, bagaimana sesudah mencapai kesempurnaan, orang itu mencapai Sang Brahman — Yang Maha Memiliki Kebijaksanaan.
Pada sloka-sloka berikutnya, Sang Kreshna mulai mengajarkan kepada Arjuna bagaimana seseorang yang telah berhasil melakukan usaha-usaha non-tindakan, non-aksi dan non-perbuatan ini dapat mencapai Sang Brahman, yang menjadi tujuan kesadaran dari Sang Atman dalam diri kita. Berbagai tahap-tahap dalam pencapaian kesadaran diri ini diterangkan di sloka-sloka berikut ini.
51. Penuh dengan pengertian yang bersih, secara tegar mengendalikan dirinya, menjauhi suara dan obyek-obyek sensual (indra-indra dan obyek-obyeknya), melepaskan rasa senang dan rasa benci akan sesuatu.
52. Tinggal di tempat yang sepi dan tenang, memakan secukupnya (sedikit yang diperlukan saja), mengendalikan kata-kata, raga dan pikirannya, selalu terserap di dalam yoga meditasi, berlindung (kepadaNya) tanpa sesuatu keinginan duniawi.
53. Menjauhkan “rasa-kepunyaanku,” kekerasan, kepentingan pribadi, keinginan (dan nafsu), harta-benda; merasa dirinya bukan apa-apa dan bersifat damai — orang semacam ini pantas untuk bersatu dengan Sang Brahman.
Seorang pemuja, untuk mencapai Sang Brahman, harus berjuang melalui berbagai tahap-tahap yang jauh dari sifat-sifat duniawi. Yang pertama adalah sadar akan pengetahuan yang sejati dan pengetahuan ini dicapai melalui karma (tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri pribadi. Yang kedua, lain menyusul dedikasi dalam pemujaannya kepada Yang Maha Esa.
Sewaktu mencapai pengetahuan sejati melalui tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri, maka sang pemuja Yang Maha Esa ini mengalami berbagai hal seperti berikut:
a. Timbul dalam dirinya suatu pengertian yang bersih, suci dan murni, dan bangkit juga tekadnya akan hal-hal yang bersih, suci dan murni, yang lepas dari ilusi-ilusi duniawi; dan sang pemuja ini sadar bahwa raganya lain dengan Yang menumpang raganya, yaitu Sang Atman.
b. la menjauhi semua kenikmatan-kenikmatan sensual atau indra-indranya seperti menjauhi suara-suara yang berisik, yang penuh polusi dan rangsangan sensual, dan lain sebagainya yang menyebabkan gangguan pada jiwa; juga menjauhi melihat dan menyentuh hal-hal yang negatif baginya.
c. la akan mampu mengendalikan dirinya dan berada di atas sifat-sifat dualislik yang saling bertentangan seperti suka-duka, cinta-benci, panas-dingin, dan seterusnya.
d. la akan menyenangi tempat yang sepi dan tenang.
e. Makan-minumnya, tidur dan bicaranya akan secukupnya saja, amat bersahaja dan sattvik sifatnya. Baginya sedikit tetapi mencukupi sudah amat baik baginya.
f. la terkendali dalam kebutuhan dan gerak-gerik tubuhnya, pikirannya dan pembicaraannya.
g. la selalu terserap dalam meditasi, demi Kebenaran Yang Sejati, demi Yang Maha Esa.
h. Jauh dari rasa keinginan-keinginan duniawi, dari nafsu dan mengarah kepada hal-hal yang tidak bersifat duniawi atau keterikatan (vairagya).
i. Jauh dari ambisi, rasa memiliki atau “aku,” kepalsuan, kekerasan, kesombongan, ego, nafsu, dan rasa marah.
j. Selalu bersikap damai, penuh dengan ketenangan jiwa, sopan-santun, budi baik, penuh simpati kepada sesama makhluk, penolong dan tidak serakah.
54. Menyatu dengan Sang Brahman, jiwanya tenang, ia tidak bersedih, atau bernafsu. Memandang setiap benda dan makhluk sama rata, ia mencapai dedikasi nan agung di dalamKu.
Seorang pemuja Yang Maha Esa yang telah menyatu akhirnya dengan Sang Brahman, tak akan pernah bersedih untuk apapun juga dan tak pernah bernafsu untuk hal-hal yang bersifat duniawi maupun yang bersifat spiritual demi kebutuhan-kebutuhan egonya. Raga, jiwa dan batinnya telah berubah suci, bersih dan murni, dan ia telah lepas dari semua karma-karmanya. la bahagia dengan dirinya sendiri. la melihat secara sama-rata pada setiap benda dan makhluk. la mencintai Yang Maha Esa dengan penuh bakti, kasih yang tulus dan dedikasi yang murni. Bagi Yang Maha Esa, Sang Kreshna, pemuja semacam ini adalah agung dan merupakan Sang Atman sendiri secara keseluruhan. Dan bakti pemuja ini dianggap berada di atas semua sifat-sifat alam (guna-guna) Sang Maya (Prakriti), di atas semua bentuk karma.
Bakti pemuja semacam ini sesungguhnya mulai setelah ia menyadari atau mendapatkan penerangan Ilahi. Begitu bergabung dengan penerangan yang dikaruniakan Yang Maha Esa, maka tindak-tanduknya, intuisi, maupun pemikiran dan pemujaannya akan sinkron dan selaras dengan kehendak Yang Maha Esa (Sang Atman), pemujaannya akan penuh dedikasi yang tulus dan murni, secara sejati ia akan memuja Yang Maha Esa.
55. Dengan dedikasi dan kesetiaan ia mengenalKu, (menyadari) apa kemampuanKu dan apa Aku ini dalam arti yang sejati, kemudian setelah mengenalKu secara sejati, maka berlanjutlah ia memasuki Itu, Yang Maha Agung.
Untuk mencapai atau memasuki Sang Brahman adalah dengan mencintai dan mengasihi Sang Kreshna setulus-tulusnya. Untuk mencintai Sang Kreshna adalah dengan mengenal Sang Kreshna dulu, mengenal betapa menakjubkan Ia, apa saja bentuk sejati dari sifat-sifatNya, keajaiban-keajaibanNya, mukjizat-mukjizatNya dan kegaibanNya, keagungan dan kebesaranNya. Untuk mengetahui ini semua adalah dengan memasuki kehidupanNya. Dan seseorang bekerja dan bertindak bukan untuk dirinya lagi, tetapi hanya demi Ia semata. Jadi dengan kata lain, klimaks dari kesadaran akan kasih itu sebenarnya terletak pada bhakti (bakti) dan prema (kasih-Ilahi). Memasuki atau menyatu dengan Yang Maha Esa bukan berarti “menyia-nyiakan diri kita,” tetapi lebih berarti bahwa Sang Jiwa kita harus dilepaskan dari ikatan-ikatan duniawinya, kemudian akan terbukalah tabir yang selama ini menutupi jiwa kita, dan terlihatlah sifat gaib Yang Maha Esa dalam diri kita, yang sebenarnya adalah duplikat atau rupa dari Yang Maha Suci dan Agung, Sang Kreshna Yang Sejati; Menyatu atau masuk ke dalamNya berarti menjadi gambaranNya, menjadi seperti Sang Kreshna. Dan karena Sang Kreshna, Yang Maha Esa, itu kasih adanya, maka menyatu denganNya berarti mencintai dengan kasih Yang Tak Kunjung Habis secara konstan dan abadi, selama-lamanya, kepadaNya dan sesama makhluk dan manusia di alam semesta ini. Bayangkan seperti apakah kasih ini: di luar kata-kata untuk menggambarkan kebesaran dan keagunganNya, di luar batas-batas khayalan manusia awam!
Mencintai Sang Kreshna adalah dengan (sekali lagi!) mengenalNya, mengenal sifat-sifatNya yang paling dalam mengenal kebenaran apa saja Ia ini sebenarnya. Melalui pengetahuan kasih ini, Sang Jiwa kita akan memasukiNya. Dan dengan dedikasi yang disertai dengan kasih yang tulus dan sejati, maka Sang Jiwa akan tinggal di dalam Sang Kreshna sampai saat ajal datang menjemput, kemudian secara abadi ia larut dan bersatu tinggal di dalam Yang Maha Esa (setelah kematian pemuja yang tulus ini).
56. Melakukan semua tindakan secara konstan, apapun jenis tindakan ini, berlindung kepadaKu, dengan karuniaKu, ia akan mencapai tempat nan abadi, yang tak pernah binasa.
Dalam sloka ini Sang Kreshna menggabungkan seluruh doktrin atau ajaran-ajaranNya yang terdiri dari unsur-unsur karma, gnana dan bhakti. Seorang pemuja Sang Kreshna yang sejati tidak perlu malu-malu untuk ber-karma. la dapat melakukan pekerjaan apa saja yang positif tentunya, selama itu disertai oleh rasa bhakti yang tulus. Dan karunia Yang Maha Esa akan memutuskan seluruh ikatan-ikatan karmanya. Seseorang yang secara sejati telah bersandar kepada Sang Kreshna, Yang Maha Esa, walau ia bertindak apa saja, apapun yang dilakukannya walau mungkin terkesan salah bagi sebagian orang, sebenarnya hasil atau buah dari perbuatan itu sudah diambil dan dinetralisir oleh Yang Maha Kuasa. Pemuja ini sebenarnya sudah bersandar total kepadaNya, dan hanya hidup dan bekerja atas karuniaNya yang sejati. Ada tiga pemikiran yang dapat disimpulkan dari sloka-sloka di atas, yaitu:
a. Sang Jiwa dituntun ke arah gnana (pcngetahuan atau kesadaran) oleh tindakan-tindakan yang tanpa pamrih, atau yang telah dipasrahkan secara total kepada Yang Maha Esa.
b. Sarnagati, yaitu bersandar pada Yang Maha Kuasa, (walaupun mungkin dengan motif-motif yang penuh dengan maksud-maksud pribadi), mendedikasikan berbagai kewajiban-kewajiban kepadaNya.
c. Prema-bhakti, yaitu melalui cinta atau kasih yang agung dan suci.
57. Menyerahkan dalam pikiran semua tindakan kepadaKu, memandangKu sebagai Yang Maha Agung, berlindung dalam buddhi-yoga, yoga kebijaksanaan yang dapat membedakan, maka pusatkanlah pikiranmu senantiasa kepadaKu.
Di sloka ini Sang Kreshna bersabda agar secara mental Arjuna mcnyerahkan atau memasrahkan semua tindakan-tindakannya kepada Yang Maha Esa dari lubuk hati dan jiwanya secara tulus dan sejati.
Yang dimaksud di sini amat penting, yaitu menjadikan diri kita tidak lain dan tidak bukan semacam wakil atau utusan dari Yang Maha Esa Itu sendiri, yang ditugaskan bekerja dan beribadah kepadaNya di bumi ini, sesuai dengan kehendakNya, dan senantiasalah berpikir akan Yang Maha Esa dan memohon petunjuk-petunjuk dan tuntunan-tuntunanNya. Kemudian secara tulus memasrahkan secara total semua perbuatan itu dan hasil-hasilnya kepada Yang Maha Esa: terjadilah kehendakNya.
Dan janganlah ini disertai dengan pamrih atau pemikiran akan imbalan sedikitpun, sekecil apapun, janganlah terlintas pikiran akan pamrih ini! Dengan belajar, berusaha dan mempraktekkan tahap demi tahap, langkah demi langkah buddhi-yoga sebagai dasar dari semua yoga-yoga lainnya, seseorang harus hidup di dunia ini dengan segala kewajiban-kcwajibannya, dengan segala efek dan aspek dari kewajiban, perbuatan, pekerjaan dan aksi ini, bukannya melarikan diri dari semua aspek kehidupan yang kita hadapi ini dengan berbagai alasan, misalnya berdosa atau sukar melakukan sesuatu. Semua alasan-alasan yang dicari untuk menghindar dari aksi-aksi yang positif dan sesuai dengan kewajiban adalah kebodohan yang amat sangat. Bekerjalah, berbuatlah, berkarmalah, beraksilah, semuanya dengan dasar kewajiban kita, memakai istilah agama Islam, berdasarkan ibadah kita kepada Yang Maha Kuasa, dan serahkan hasilnya secara total dan murni kepadaNya semata. Dengan demikian bersihlah karma kita dari ikatan-ikatan duniawi ini. Sekali lagi, bersatulah dengan Yang Maha Esa dalam tekad, iman, jiwa dan kesadaran!
58. Berpikir akan Aku, maka dikau akan mengatasi semua rintangan-rintangan dengan karuniaKu. Tetapi kalau terdorong rasa egoisme dikau tak mau mendengarkan Aku, maka dikau akan binasa.
Sang Jiwa harus bermeditasi kepada Sang Kreshna dan melupakan pikiran akan kepentingan diri-pribadinya sendiri. Seseorang yang telah membunuh rasa egonya, akan mendapatkan bimbingan Sang Kreshna ke arah sukses spiritual. Tetapi seseorang yang karena hanya mementingkan egonya dan tak mau acuh kepada ajaran-ajaran Sang Kreshna akan binasa. Jadi tinggal memilih sendiri keselamatan atau kehancuran. Kalau kita menginginkan kehancuran maka percayalah diri-sendiri dan ikutilah segala kemauan diri ini. Kita bisa saja menentang yang Maha Esa, tetapi tidak mungkin menentang kehendakNya. Sekali menentangNya, maka jatuh, hancur dan binasalah kita, dalam arti masuk ke dalam lingkaran setan kelahiran dan kematian yang seakan-akan tidak ada habis-habisnya.
Seandainya secara salah kita mengidentifikasi diri kita dengan badan dan pikiran kita, dan hanya tergantung pada “ego” kita, (dan berpikir bahwa kitalah pelaku setiap tindakan) atau pun yang ada disekitar kita berdasarkan ego kita pribadi, maka kita pasti akan jatuh. Dengan demikian kita akan jauh dari Yang Maha Esa, kalau kita makin jauh maka kita akan bertambah kotor dan penuh dengan polusi duniawi, dan hancurlah kita kemudian jadinya. Biasanya rasa kesombongan, ego dan kebesaran kita akan diri kita ini akan hancur dahulu sebelum kita sendiri kemudian menyusul hancur. Tetapi bergandengan tangan dengan Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang, maka tujuan dan sukses pasti akan tercapai. Dengan kata lain, kejatuhan sang jiwa kita adalah karena tidak patuhnya, karena pertentangan kita dengan kehendakNya. Dalam perjalanan atau evolusi hidupnya Sang Jiwa ini lalu menjadi cacat dan cemar, dan inilah yang disebut kehancuran dan kejatuhan Sang Jiwa ini ke dalam kegelapan.
59. Kalau bertahan dalam egoisme, dikau berpikir, “Aku tak akan berperang,” maka ketahuilah bahwa keputusanmu itu sia-sia saja. Alam (pembawaan dan takdir) akan memaksamu untuk bertindak!
60. Oh Arjuna, terikat oleh tindakan-tindakanmu sendiri, lahir dari sifatmu sendiri. Hal-hal yang karena kekurang-sadaranmu tidak ingin kau lakukan, tanpa daya akan kau lakukan juga.
Seandainya Arjuna yang berstatus kshatriya ini tidak ingin berperang karena rasa egonya yang salah tidak menginginkan ia berperang. Tetapi tanpa akan disadarinya segala naluri alaminya, sifat dan pembawaannya beserta takdir yang sudah digariskan Yang Maha Kuasa akan memaksanya untuk bertindak dan berperang demi kelangsungan hidupnya atau demi alasan-alasan lainnya. Semua tindakan ini sebenarnya berdasarkan akan karma-karma yang kita buat sendiri pada kelahiran-kelahiran yang lalu. Jalan yang paling benar secara spiritual dan kejiwaan adalah dengan mempersembahkan secara tulus dan penuh kesadaran jivva-raga kita kembali kepada Yang Maha Esa. Lalu karma-karma kita secara tahap demi tahap akan menyesuaikan diri dan berubah karakternya menjadi penuh dengan dedikasi dan kesetiaan demi Yang Maha Kuasa.
Bahkan seorang yogipun tak akan bisa berubah sekaligus, semua atau setiap orang harus melalui tahap penyerahan total kepadaNya dulu. Ada suatu hal yang tak dapat kita perkirakan, yaitu episode-episode yang akan terjadi dalam perjalanan hidup kita ini, bahkan setiap hari kita jumpai kisah-kisah yang penuh dengan pengalaman yang unik, dan semua itu bisa saja jauh dari perkiraan dan rencana kita yang sudah matang. Bahkan sering kita melakukan hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan dulunya, bahkan sering sekali kita melakukan hal-hal tanpa kesadaran; sering sekali bahkan secara suka-rela, sering juga tanpa daya dan terpaksa, hal-hal ini semuanya ada yang bertentangan dengan diri kita, ada yang selaras, ada yang setelah dilakukan menimbulkan sesal, ada yang setelah dilakukan secara terpaksa tetapi kemudian mendatangkan suatu kesenangan tersendiri. Sebenarnya tanpa kesadaran kita, semua ini telah diatur dan tercipta sewaktu kita sendiri mulai tercipta di dunia ini bahkan mungkin sebelumnya. Seperti wayang atau pemain sandiwara kita ini sudah diatur cara bermainnya oleh sang dalang dan sutradaranya, mau tak mau kita harus memainkan peranan kita masing-masing, karena itulah karma-karma kita yang berjalan di bawah kuasa Sang Prakriti.
61. Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati (jiwa) setiap makhluk, oh Arjuna, mengakibatkan mereka terputar oleh Sang Maya (kekuatanNya), ibarat makhluk-makhluk ini diletakkan di atas suatu alat (yang berputar).
Sebenarnya semua yang kita berbuat adalah perbuatan atau kehendak Yang Maha Esa itu sendiri yang bersemayam di dalam jiwa kita dan dalam jiwa setiap makhluk lainnya. Ia lah yang ‘membolak-balikkan” kita tanpa kita bisa berdaya atau menentang kehendakNya sedikitpun, dan alat pemutar ini adalah Sang Maya (ilusi, tenaga alami, dan juga kekuatanNya). Sering alat-pemutar ini disebut juga ibarat gangsing oleh penterjemah sloka ini di versi-versi lain dari Bhagavat Gita). Yang Maha Esa adalah ibarat seorang dalang dalam pertunjukan, Yang Mengatur segala-galanya baik segi kostum, tata-ruang, penampilan dan semua gerak-gerik dan dialog kita. Sedangkan motor penggerak atau alat penggerak dibalik semua itu adalah Ia juga dalam benluk kekuatannya, yaitu Sang Maya yang diciptakanNya Sendiri; tanpa Sang Maya tidak akan ada kekacauan dan kebaikan di dunia ini. Sang Maya ini dengan kehendakNya membuat kita “menang, berlari, jatuh-bangun, tunggang-langgang, terbuai, dan lain sebagainya.
Yang Maha Esa ini, oh manusia, Yang Menentukan seseorang harus berperang, berjuang, dan melawan kegelapan, kezaliman dan kekurangan pengetahuan kita. Prakriti memberikan kepada setiap makhluk, manusia dan benda peranan-peranan tertentu dalam kehidupan kita ini, tetapi semua itu juga diikuti oleh ikatan-ikatan duniawi, jadi mau tak mau harus bertindak, berbuat dan beraksi sesuai dengan pola dari Sang Prakriti ini (kekuatanNya).
Di alam semesta ini yang merupakan suatu roda dari Sang Waktu, maka Yang Maha Kuasa telah menggariskan atau merencanakan setiap karma bagi setiap makhluk-makhluk ciptaanNya yang harus dilaksanakan oleh makhluk-makhluk ini. Jadi setiap manusia dan makhluk dan benda harus berputar atau berfungsi ibarat di atas suatu alat pemutar pembuat keramik, dan sewaktu diputar ini maka keramiknya atau tanah-liat yang akan dijadikan benda keramik inipun dipoles dan dibentuk sesuai dengan kehendak dan cita-rasa sang pembuat keramik. Dan dalam proses pembuatan keramik ini, tentu saja tidak semua keramik ini akan terbentuk dengan sempurna atau sama. Ada yang cacat, dan ada juga yang pecah berantakan, tetapi banyak juga yang cantik dan sempurna bentuknya. Jadi dengan kata lain, tidak ada suatu kejadian atau nasib atau takdir yang kebetulan sifatnya atau penuh dengan “seandainya,” yang ada hanyalah Yang Maha Esa dan semua rencana-rencanaNya, tidak lebih dan tidak kurang!
62. Berlarilah mencari perlindungan di dalamNya dengan segenap jiwa-ragamu, oh Arjuna! Dengan karuniaNya dikau akan mendapatkan Kedamaian Yang Agung — Tempat Tinggal Yang Abadi.
Sang Kreshna Yang Maha Bijaksana setelah mengajarkan rahasia yang amat suci dan agung sifat ini, masih saja bersifat amat demokratis dan tidak mau menang sendiri atau memaksakan ajaran-ajaran ini kepada Arjuna atau kita semua. Malahan Ia menganjurkan agar semua ajaran dan wejangan ini dipelajari dan direnungkan dulu, dengan kata lain, kita semua diberikan kebebasan olehNya untuk bertindak atau memutuskan apa kita ingin mengikuti semua ajaran-ajaran ini secara semestinya, atau ingin bebas beritikad sesuai dengan selera kita sendiri.
Pengetahuan tentang kesadaran atau pencapaian Sang Brahman oleh manusia melalui tindakan atau perbuatan tanpa pamrih secara total adalah sebuah rahasia atau misteri yang sifatnya lebih dari rahasia itu sendiri, apapun bentuk rahasia itu. Rahasia yang lainnya adalah bahwa Sang Kreshna, Yang Maha Esa itu, adalah monitor yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk, yang sebenarnya menyelenggarakan dan yang dengan kekuatanNya (Sang Maya) mcmbuat kita bertindak, berbuat, bekerja, beraksi dan “menari-nari” tanpa daya di panggung dunia ini. Maka berlindunglah selalu kepadaNya semata, kepada Yang Maha Esa, kepada Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kebijaksanaan ini amat jelas sifatnya, terserah kepada kita semua mau mengikuti semua ajaran-ajaran kebijaksanaan ini dan mengamalkan kepada sesama kita dan demi Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengikuti kehendak pribadi kita sendiri. Yang Maha Esa jelas sifat dan pendirianNya, yaitu amat demokratis dan tidak memaksa. Semua ini tentunya kembali lagi kepada kita untuk direnungkan dan dijalani.
63. Demikianlah ilmu pengetahuan yang paling rahasia dari semua mistik, telah Ku-ajarkan kepadamu; Setelah mempertimbangkan semua ini sepenuhnya, bertindaklah seperti yang engkau kehendaki.
Setelah sekian banyak ajaran yang telah diberikan Kreshna kepada Arjuna, hingga saat ini. Dia sepenuhnya menyerahkan segala keputusan akhir di tangan Arjuna sendiri, yang bebas memilih dan menentukan sendiri apa yang harus dilakukannya. Disini Arjuna harus menemukan jati dirinya terlebih dahulu agar dapat menentukan arah yang tepat dan benar bagi penentuan selanjutnya. Ajaran dari Sri Kreshna ini bukanlah indoktrinasi dan memberikan kebebasan penuh kepada siswa untuk mempergunakan penalaran dan kemampuan pemahamannya dalam mengambil keputusan akhir.
64. Dengarkanlah lagi kata-kataKu yang agung, yang paling rahasia sifatnya dibandingkan semuanya. Dikau adalah yang amat Kukasihi, maka akan Kukatakan kepadamu demi kebaikanmu.
Sebenarnya sabda atau wejangan-wejangan Sang Kreshna adalah “sabda-sabda nan agung” sifatnya, yang menjadi intisari dari Bhagavat Gita, intisari dari yoga atau ilmu pengetahuan yang sejati.
65. Pusatkanlah pikiranmu padaKu; berdedikasilah kepadaKu; berkorbanlah demi Aku; sujudkanlah dirimu di hadapanKu. Maka dikau dengan demikian akan datang kepadaKu. Aku menjamin dikau dengan kebenaranKu; dikau adalah kesayanganKu!
Arjuna adalah kesayangan Sang Kreshna, maka diturunkanlah ajaran mengenai bhakti yang amat murni sifatnya ini kepadanya. Sang Kreshna atau Yang Maha Esa pun menyayangi kita semua, dan diturunkanlah ajaran Bhagavat Gita kepada kita semuanya, maka dengan memberikan segenap jiwa-raga kita secara total kepadaNya, dengan mencintai dan mengasihiNya, memujaNya, selalu mengingatNya, tunduk dan bersujud selalu kepadaNya bekerja untukNya semata apapun jenis pekerjaan itu tanpa pamrih, maka kita semua akan menemukanNya, menemukan Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan dari segala bentuk kehidupan dan tujuan kehidupan ini, kehidupan kita semua ini. Om Tat Sat.
66. Serahkanlah semua kewajiban, datanglah kepadaKu semata untuk berlindung. Janganlah bersedih! Akan Kubebaskan dikau dari semua dosa-dosa.
Sloka ini dianggap sebagai sloka yang amat penting dalam Bhagavat Gita, dan merupakan suatu ungkapan dan ajaran yang dianggap amat rahasia sekaligus penuh dengan kasih-sayang Yang Maha Esa yang tak terbatas. Ajaran atau wejangan ini dianggap sebagai suatu kebijaksanaan yang amat dalam artinya dan menjadi patokan yang amat disegani dan dihormati oleh umat Hindu yang suci semenjak ribuan tahun yang silam di India dan di mana saja agama Hindu ini berkembang. “Serahkan semua kewajiban,” pada sloka ini berarti tanggalkan atau lepaskanlah dharma yang ditekankan atau terdapat di pustaka-pustaka suci kuno untuk sesuatu yang nilainya lebih luhur dan agung, yaitu dengan menjadikan Yang Maha Esa secara tunggal tempat kita berlindung, memohon dan mengabdi, dan memandangnya sebagai Yang mengayom dan Yang Menuntun kita sesuai dengan kehendakNya semata.
Jangan membuang-buang waktu untuk mendiskusikan soal kasta yang sudah jelas maksudnya, yaitu pembagian kerja dan bukan perbedaan status atau diskriminasi. Jangan membuang-buang waktu yang berharga dengan melakukan tradisi dan upacara-upacara yang membingungkan dan membuang-buang energi, tetapi langsung saja menuju ke suatu perbuatan nyata yang hakiki dan sejati sifatnya, yang tanpa pamrih demi dan untuk Yang Maha Esa semata, dan bukan demi kepuasan mata, kepuasan jiwa atau indra-indra dan pikiran pribadi kita. Janganlah menerapkan kewajiban-kewajiban atau instruksi-instruksi dalam dharma-shastra kita secara ngawur dan salah, secara metafisik dan etika belaka, tetapi lakukanlah secara murni sesuai dengan sabda-sabda Sang Kreshna, Tuhan dari semua dewa-dewa dan kekuatan-kekuatan di alam semesta ini. Semua kewajiban dan instruksi yang terdapat di dalam dharma-shastra ini akan hilang nilai dan artinya sekali seseorang sudah melakukan bhakti yang luhur dan tulus kepada Yang Maha Esa secara langsung.
Seorang jignasu (pencari kebenaran) harus menyerahkan secara total, jiwa dan raganya bagi Yang Maha Esa, dan Yang Maha Esa pasti akan membebaskannya dari segala dosa-dosa dan keterbatasannya, dari kekurang-pengetahuannya dan dari semua segi negatifnya. Ini adalah janji tulus Sang Kreshna, Yang Maha Esa, kepada kita semua dan ini menunjukkan kasihNya Yang Agung dan Suci. Rahasia ke Tuhan Yang Maha Suci adalah bhakti yang tulus dan tanpa pamrih, tanpa benci, tanpa keinginan duniawi, tetapi hanya demi dan untuk Ia semata. Terjadilah kehendakNya. Om Tat Sat.
Seseorang yang dedikasinya kepada Yang Maha Esa masih dalam taraf yang belum matang, sewaktu bertindak sesuatu akan menganalisa dan mengkonfirmasikan setiap tindakan dan efeknya secara mental, fisik, moral, kewajiban, hukum, kaidah, kegunaan, bahkan dari segi spiritual juga akan diperhitungkan olehnya. Tetapi sekali ia berjalan dan berdedikasi secara tulus, tanpa pamrih dan dengan kesadaran yang matang, maka semua unsur, kaidah, dan nilai-nilai kewajibannya akan sirna, dan kemudian hanya timbul satu kesadaran Ilahi yang amat sukar diterangkan dengan kata-kata atau bahasa awam. Kesadaran ini bentuknya amat spiritual dan orientasinya hanya Yang Maha Esa semata. Di sini semua yang dikerjakan, diperbuat dan setiap aksi akan menjadi ibadah atau dedikasi yang amat tulus sifatnya dan setiap bentuk perbuatan pemuja ini akan sinkron dengan kehendakNya, dan inilah misteri dari kehendakNya, yang hanya bisa dimengerti secara spiritual dan duniawi oleh pemuja itu berkat karuniaNya juga.
Suatu bentuk pengalaman atau kehidupan yang sukar dapat diterangkan dengan logika duniawi. Maka seyogyanyalah jangan menjadikan diri anda sebagai budak dari tradisi, kewajiban yang belum tentu positif nilainya, atau sesuatu tindakan yang nampaknya positif berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Ini bukan wejangan sesat atau ajaran Sang Kreshna yang salah, tetapi bhakti yang tulus kepada Yang Maha Esa memang akan menimbulkan semacam prema (kasih-Ilahi) yang tak terbatas agung dan suci yang penuh dengan pengetahuan-pengetahuan spiritual yang sukar dijangkau dengan logika duniawi, dan sukar diterangkan dengan kata-kata biasa, dan kebijaksanaan atau kesadaran Ilahi ini berada di atas semua kebaikan dan keburukan duniawi. Tanggalkanlah semua baju-baju duniawi anda, dan secara “telanjang-bulat” lepaslah dari nafsu-nafsu dan keinginan.
Sambutlah Yang Maha Esa dengan bhakti yang tulus, berlindunglah di dalamNya dan selalulah berdoa “terjadilah kehendakNya.” Inilah intisari ajaran Bhagavat Gita yang agung dan suci ini. Aliran Ramanuja di India menyimpulkan sloka 66 ini sebagai intisari atau klimak dari ajaran Bhagavat Gita. Bekerja, bertindak dan berbuat suatu apapun; misalnya hal-hal yang dianggap terbaik dan suci, tetapi demi Yang Maha Esa semata dan tanpa harapan akan imbalan, maka perbuatan ini akan dilindungi oleh Yang Maha Esa dan sang pemujanya akan diselamatkan dari segala mara bahaya. Tetapi kalau sang pemuja sebaliknya berpikir bahwa semua tindakan tanpa pamrih ini malahan akan melepaskannya dari mara-bahaya dan akan dilindungi oleh Yang Maha Esa, maka pikiran semacam ini tidak murni lagi karena sudah terkena polusi dari pamrih itu sendiri. Ingat secercah harapan sekecil apapun merupakan tanda bahwa dedikasi itu sudah tidak murni lagi. “Terjadilah kehendakNya,” apapun itu! Baik yang terlihat negatif maupun positif, Yang Maha Esa yang tahu apakah hasil dan efek yang diberikannya kepada seseorang itu negatif atau positif. Seorang yang bersatu denganNya secara sejati akan mendapatkan juga pengetahuan ini, dan ia akan selalu bahagia dengan apapun yang dibcrikan oleh Yang Maha Esa kepadanya. Om Tat Sat.
67. Jangan sekali-kali dikau bicarakan ajaran ini kepada seseorang yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam hidupnya, juga tidak kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak kepada seseorang yang tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang menjelek-jelekkan Aku.
Kebenaran yang sejati ini jangan diajarkan atau dibicarakan dengan mereka-mereka yang hidupnya penuh dengan kemewahan dan kenikmatan duniawi, yang sudah terbius oleh semua unsur duniawi ini juga tidak kepada yang tak memiliki dedikasi atau ibadah kepadaNya, atau kepada mereka-mereka yang tak mau melakukan disiplin-disiplin spiritual seperti puasa, pemujaan, sembahyang, meditasi dan kegiatan-kegiatan spiritual lainnya yang berorientasi kepada Yang Maha Esa, atau mereka-mereka yang tidak mau memikirkan sesamanya. Jangan juga ajarkan Bhagavat Gita kepada orang-orang yang anti-Tuhan dan yang senang dan gemar menjelek-jelekkan Tuhan Yang Maha Esa. Juga jangan ajarkan Bhagavat Gita kepada mereka yang nafsu sensualnya terlalu besar, atau mereka-mereka yang selalu mencari-cari kesalahan dalam setiap agama dan ajaran-ajaran suci lainnya. Karena ini sama saja meletakkan sebutir mutiara yang berharga dihadapan seekor babi, yang hanya senang makan kotoran dan tidak sadar atau tahu akan nilai mutiara ini.
Ajarkanlah Bhagavat Gita kepada mereka yang memperlihatkan dedikasi yang tinggi kepadaNya, yang hidupnya penuh dengan perbuatan baik bagi sesamanya, yang berdisiplin secara spiritual, karena orang-orang yang tidak memenuhi syarat-syarat ini akan salah mengerti akan ajaran-ajaran Bhagavat Gita, dan menyalah gunakannya. Jadi lebih baik tidak diajarkan, karena malahan akan menimbulkan kekacauan dan kebatilan daripada kebaikan dan kebenaran.
68. Seseorang yang membukakan (menjelaskan) rahasia agung ini kepada pemuja-pemujaKu, memperlihatkan dedikasi yang tertinggi kepadaKu – ia, tanpa diragukan, akan datang kepadaKu.
69. Juga tak ada di antara manusia yang lebih tinggi dedikasinya kepadaKu selain ia. Juga tak akan ada orang lain yang lebih Kukasihi di bumi ini selain ia.
Seseorang yang dengan bakti dan dedikasi yang tulus mengajarkan Bhagavat Gita kepada yang lain-lainnya adalah seorang manusia yang amat dikasihi oleh Sang Kreshna, oleh Yang Maha Esa, demikian sabda Sang Kreshna disloka-sloka di atas, karena orang ini membantu orang lain untuk menyeberangi kehidupan (sansara) ini ke Tujuan Nan Abadi, Tempat Tinggal Kita Yang Selama-lamanya. Om Tat Sat.
70. Dan seseorang yang mempelajari dialog Kita yang suci ini, maka ia akan memujaKu dengan mengorbankan (mempersembahkan) ilmu pengetahuan. Begitulah ketetapanKu.
Mempelajari atau melakukan suatu studi akan Bhagavat Gita secara tulus adalah suatu bentuk pemujaan akan Yang Maha Esa. Barangsiapa mempelajari Bhagavat Gita berarti mempersembahkan suatu persembahan yang tak ternilai harganya bagi Yang Maha Esa. Ini sudah menjadi ketetapan Sang Kreshna, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.
71. Dan seseorang yang penuh dengan iman dan tanpa itikad mencemoohkan, walaupun ia hanya mendengarkan saja, ia pun, lepas (dari perbuatan-perbuatan iblis), akan mencapai loka-loka kebenaran nan terang-benderang.
Bahkan seseorang yang tidak mempelajari Bhagavat Gita, dan hanya mendengarkan ajaran-ajaran ini dari mulut orang lain, dapat berubuh menjadi seorang mukta, yaitu yang mendapatkan mukti (kebebasan), selama ia mendengarkannya dengan penuh iman dan kepercayaan penuh tanpa maksud untuk mencemohkan ajaran ini. Tetapi kebebasan yang didapatkan orang ini bukan kebebasan dari lahir dan mati yang berulang-ulang, tetapi kebebasan dari dosa-dosanya, dari perbuatan-perbuatan buruknya – karena dosa-dosa atau perbuatan-perbuatan iblis seseorang adalah hambatan-hambatan yang sukar di jalan bakti atau dedikasi kepada Yang Maha Esa. Sekali terbebas dari dosa-dosanya, dan setelah meninggal-dunia, ia akan pergi ke loka-loka di mana tinggal orang-orang yang selama hidupnya penuh dengan tindakan-tindakan yang suci dan murni.
Bhagavat Gita adalah salah satu karya Ilahi yang berbentuk amat spiritual; yang menghancurkan kegelapan bagi seseorang yang tekun dan mau untuk merenungi ajaran-ajaran suci ini. Ajaran ini menghancurkan keragu-raguan seseorang yang beriman kepadaNya. Dengarkanlah pesan-pesan Sang Kreshna dengan penuh penghayatan, dan kalau ada yang kurang di mengerti jangan ragu-ragu untuk bertanya kepada guru atau pada yang mengetahuinya, dan suatu saat yang tepat nanti kita akan sampai ke tujuan hidup ini, yang sebenar-benarnya, yaitu kehidupan yang sejati bersamaNya.
72. Sudahkan dikau dengarkan ini, oh Arjuna, dengan pikiran yang terpusat pada suatu arah? Sudah hancurkah moha (kegelapan) mu yang dikarenakan oleh agnana (kekurangan-pengetahuan), oh Arjuna?
Sang Kreshna kini bertanya kepada Arjuna apakah keragu-raguannya yang dikarenakan oleh kekurang-pengetahuan akan ilmu pengetahuan yang sejati telah pupus kini, setelah mendengarkan wejangan dan sabda-sabda suci Sang Kreshna. Apakah moha (kasih-sayang atau keterikatan duniawinya) akan keluarga dan negaranya telah berganti menjadi kasih-sayang Ilahi Yang Sejati, yang penuh dengan kesadaran sejati akan arti dan hakikat misi kita ke dunia ini?
Berkatalah Arjuna:
73. Hancurlah sudah kegelapanku, telah kudapatkan kesadaran ini melalui karuniaMu, oh Kreshna! Tegarlah daku kini, dan hilanglah sudah keragu-raguanku. Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.
Akhirnya, Arjuna mendapatkan kesadarannya dan siap melakukan sabda-sabda Sang Kreshna, tegarlah sudah jiwa, pikiran dan raganya. Kebenaran Ilahi, kebenaran dan penerangan Sang Atman datang sudah ke dalam dirinya. Hilang sudah kegelapan dari diri dan jiwanya, dan sadarlah Arjuna kini, bahwa Sang Jiwa itu sebenarnya adalah abdi Yang Maha Kuasa yang sifat sejatinya adalah abadi dan tidak bisa binasa. Tempat sebenarnya dari Sang Jiwa di dunia adalah di telapak kaki suci Sang Kreshna, Yang Maha Esa. Dengan kata lain, ini berarti Sang Jiwa seharusnya mengabdi di dunia sesuai dengan kehendakNya dan bukan sesuai dengan kehendak dan nafsu Sang Jiwa sendiri, dan Arjuna pun sadar akhirnya bahwa kebijaksanaan yang tertinggi adalah dalam bentuk penyerahan total jiwa, raga, pikiran dan perbuatan serta hasil perbuatan-perbuatan itu, secara tulus dan tanpa pamrih, kepada Yang Maha Esa semata. Tidak mengherankan kalau di sloka ini Arjuna akhirnya berkata, “Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.”
Begitulah selalu, setelah Sang Jiwa dalam diri kita sadar maka – egoismenya akan hilang, ilusi-ilusi di sekitarnya hilang, kegelapannya tersibak dan keragu-raguannya hancur-lebur, maka — akan terdengarlah sebuah suara kecil dari Yang Maha Esa di dalam dirinya, dan mulailah ia bertindak mengikuti semua instruksi-instruksi dan tuntunan-tuntunanNya, ia menjadi alat atau instrumen Yang Maha Kuasa dengan penuh kesadaran dan penerangan Ilahi penuh dengan ilmu pengetahuan yang sejati.
Berkatalah Sanjaya:
74. Demikianlah telah kudengar dialog yang amat menakjubkan antara Sang Vasudeva (Kreshna) dan Partha (Arjuna) yang berjiwa luhur (besar), dialog ini membuat bulu-bulu romaku berdiri.
Sanjaya yang pada awal Bhagavat Gita memulai kisah Bhagavat Gita kepada Raja Dhritarashtra; telah menceritakan semua yang didengarkan dan yang dilihatnya ini pada sang raja, dan di sloka-sloka berikutnya ia akan mengakhiri kisah Bhagavat Gita.
75. Dengan kebaikan Vyasa, kudengar rahasia agung ini, Yoga yang diajarkan sendiri oleh Sang Kreshna, Tuhan dari segala ilmu pengetahuan yang bersabda didepanku.
Sanjaya menerangkan kepada raja Dhristarashtra bahwa dengan pertolongan Resi Vyasa yang memberikan Sanjaya penglihatan mistik, maka ia telah mendengarkan sabda-sabda Sang Kreshna kepada Arjuna, tetapi tidak dengan telinga duniawi milik raganya, karena kekuatan mistik Resi Vyasa. Bukan saja Sanjaya mendengarkannya, tetapi ia pun bertekad untuk mempelajari dialog suci ini. Sang raja sebaliknya akan menderita karena masih penuh dengan itikad-itikad jahat.
76. Mengingat-ingat dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna yang menakjubkan dan suci ini, oh raja. Aku gemetar dalam kebahagiaan, lagi dan lagi!
Sanjaya sendiri yang mendengar dan melihat dari jauh tak dapat melupakan dialog suci ini dan raganya berulang-ulang gemetar kalau meningat-ingat lagi akan apa saja yang ia saksikan dan dengar. Sebaliknya raja Dhritarashta, ayah para Kaurawa tidak nampak tertarik akan ajaran-ajaran suci Sang Kreshna ini, karena ia lebih mementingkan keluarga dan putra-putranya. Sanjaya di lain pihak akan bertambah terus keyakinannya terhadap Sang Kreshna dan ajaran-ajaranNya.
77. Teringat, dan teringat juga, bentuk yang menakjubkan dari Sang Kreshna, besar takjubku, oh raja, dan aku gemetar dengan kebahagiaan, lagi dan lagi!
78. Di mana hadir Sang Kreshna, Tuhan dari ilmu pengetahuan, di mana hadir Arjuna, sang pemanah, terjaminlah di sana kemakmuran, kemenangan (kejayaan), kesejahteraan dan neeti (kebenaran atau moralitas).
Sang Kreshna adalah ilmu pengetahuan yang sejati, dan Arjuna adalah energi. Kalau kedua unsur ini bergabung maka terciptalah kemenangan, kejayaan, kesejahteraan, kesentosaan, kemajuan dan kebenaran. Dengan kata lain, Sang Kreshna adalah Sang Para-Atman yang bersemayam di dalam diri kita semua. Arjuna adalah tidak lain dan tidak bukan, kita, manusia di dunia ini. Kalau kedua unsur ini bergabung secara sejati, maka terciptalah kebenaran yang sejati. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ini adalah yang kedelapan-belas yang berjudul:
Moksha Sanyasa Atau llmu Pengetahuan mengenai Pembebasan melalui Penyerahan secara TotalOm Shri Kreshna Arpanam Astu Shubham Bhavantu Puja-puji bagi Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Semoga tercipta kebahagiaan di manapun.
Dengan ini berakhirlah Upanishad Bhagavat Gita, Semoga damailah setiap benda dan makhluk di alam semesta ini.
Om Tat Sat. Om Shanti, Shanti, Shanti. Om Tat Sat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s